Surat Cinta Untuk Para Sobatku, “ASKAR” !!!

Awalnya kita tak pernah mengenal, tak pernah tahu masing-masing pribadi. Namun, aku tahu Allah sayang kita. Allah selalu tahu apa yang ada di balik tabir kehidupan ini. Hingga kita dipertemukan di suatu tempat yang luar biasa, sederhana, namun takkan pernah terlupakan.  Ehm… sekolah islam berasrama yang penuh anak-anak luar biasa, penuh kesabaran, tetap tersenyum walau problematika hidup berkeliaran di sekelilingnya.

Tiga tahun melangkah bersama, bergandengan tangan, hadapi hari suka dan duka bersama. Kami rajut persaudaraan indah ini dengan nano kehidupan. Aku simpan kenangan indah bersama orang-orang luar biasa seperti kalian, sobatku. Sebuah kebahagiaan dan kebanggaan bagiku bisa bersama kalian. Hidup di tengah-tengah kalian.
Namun, kini aku harus siap. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Aku tahu itu. Air mata ini tak dapat kutahan lagi malam itu. Mataku tak bisa terpejam dan tidur nyenyak. Aroma kamar Palestine, kamarku dan ASKAR penuh desah keharuan. Basah oleh air mata kami. Bulir kata-kata indah terkirim untukku. Dari sahabat-sahabat berjuta rasa, ASKAR. Aku menangis sedih membacanya. Aku harus siap hadapi hari esok. Wisuda Qur’an dan Haflatul Wada’ (pertemuan terakhir = perpisahan).
Pagi ini nafsu makanku hilang seketika. Begitu pula para sobatku, ASKAR. Sarapan pagi istimewa buatan bibi tetap tak menggugah selera makan kami. Tapi kami harus makan. Aku ambil sepiring sarapan. Kususun rapi-rapi agar tampak menarik. Aku masuk ke kamar. Aku tarik nafas dalam-dalam.
“ Ayo Ukhti Fillah…. kita sarapan dulu!” teriakku di depan pintu kamar. Semua menoleh ke arahku dan menggeleng. Aku yakin akan hal ini pasti terjadi. Tapi pliss satu suap saja…. aku yang suapkan…. Aku keliling kamar menyuapkan satu per satu sahabatku. Aku pandang jelas wajah-wajah mereka. Senyum dan tawa mereka tak se-renyah kemarin. Bukan karena jilbab abu-abu yang kami pakai begitu licin, membuat kami sibuk merapikannya kembali. Tapi karena…ah!…. Kami tak sanggup berpisah dengan ikatan ukhuwah yang begitu menyegarkan hati,  yang selalu menjaga perasaan saudaranya, yang selalu menyemangati saudaranya ketika turun, yang selalu…ah! aku tak bisa ungkapkan lagi.  Takkan bisa walau dengan kata-kata indah sekalipun…. sekalipun.
Segala persiapan untuk acara kami telah disiapkan guru-guru dan adik-adik kelas kami. Insya Allah lebih baik daripada tahun lalu. Puluhan kata sayang menyerbu kami hari ini. Air mata kami tetap tertahan, karena memang sudah janji kami. Tidak boleh menangis di depan adik-adik  kelas dan guru-guru kami. Kami tak mau hancurkan hari ini yang telah mereka siapkan se-baik mungkin. Ratusan senyuman menyambut kedatangan kami. Angkatan terbaik penuh se-abrek prestasi dengan nyanyian tola’al badru dari tim marawis. Kamera-kamera berebutan mengabadikan kami unuk menjadi kenangan terindah. Angkatan pembangkit sekolah. SECOND GRADUATION (ASKAR dan AMOEBA). Kami berjalan berbaris memasuki lapangan kecil sekolah yang sekarang berdirinya sebuah panggung kecil dan tenda untuk tamu-tamu yang hadir. Kami terus menyusuri kursi-kursi tamu dan segera duduk di kursi wisudawan- wisudawati.
Tanganku mulai dingin, detak jantungku bertambah kencang, rasa gugup mulai menyerangku. Aku coba tenangkan dengan memurojaah hafalanku. Buncah. Rasanya hafalanku menari-nari menertawaiku. Aku tarik nafas mencoba tenang mendengarkan sambutan dari kepala sekolah tercinta, Bapak Edi Nasirun. Hingga… dua orang guru akhwat yang menjadi motivasi kami selama di sini naik ke atas panggung. Aku pandangi wajah-wajah tegang di sekelilingku. Aku mencoba tersenyum. Getir.
“Kepada wisudawan-wisudawati diharapkan naik ke atas panggung. “ Diam. Aku dan teman-temanku mulai bangkit dan berjalan pelan ke arah panggung. Kami naik satu per satu. Aku duduk di belakang bersebelahan dengan Sarah. Aku menunduk. Lantunan  ayat suci nan merdu itu mengheningkan suasana. Semua memperhatikan kami. Rasa tegang kompak menyergap kami. Rasanya ingin menangis, mempertanggungjawabkan hafalanku ini. Aku belum siap. Aku terus berdoa dalam hati. Sesi tanya jawab dibuka. Pertanyaan-pertanyaan bergulir. Satu per satu pertanyaan dijawab oleh kami. Kami bertambah tegang ketika ketua yayasan kami, Ustadz Bukhori Yusuf bangkit dari tempat duduknya dan mengambil mikrofon. Pertanyaan penutup yang sempurna disambut jawaban yang mengalir sempurna. Alhamdulillah…..
Prosesi Wisuda Qur’an berjalan sukses. Kami turun dari panggung. Rasa lega dan puas tampak jelas pada wajah ASKAR dan AMOEBA. Dan nama-nama kami mulai dibacakan, sesuai dengan tingkatan hafalan. Satu per satu ASKAR dan AMOEBA  naik ke atas panggung. Sisa tinggal kami berenam. Sarah, Aku, Wardah, Nida, Syadza dan Fakhirah.
“……..Selanjutnya Sarah Fauziyyah dengan hafalan sebanyak 4 ¾ juz dengan kualitas hafalan jayyid jiddan…….” Ucap dua guru akhwat yang memimpin prosesi Wisuda Qur’an kami. Sarah pun naik ke pangung. Tinggal kami berlima.
“……..Selanjutnya Luthfiah Fadlun Muhammad denga hafalan sebanyak 4 ¾ juz dengan kualitas hafalan jayyid jiddan. Siswi ini meraih prestasi sebagai  Juara 1 Speech Contest Dahsyatnya Ramadhan RCTI, Juara 2 Story Telling Pada Munas PKS ke-2, Juara 1 Story Telling Mipa and English Competition Baitul Maal Expo…….” Panggil dua guru akhwat lagi. Aku maju pelan-pelan. Malu. Pandanganku beralih ke arah para hadirin. Ummi dan abi. Satu kalimat jelas yang kutangkap dari mata kedua orang tuaku. Selamat, sayang. Terima kasih! Aku tersenyum lebar. Medali Wisuda Qur’an dikalungkan dan sertifikat Qur’an kudapatkan. Aku berdiri diantara sobat-sobatku itu. Aku genggam tangan mereka. Ehm… sebentar lagi. Kami turun dan langsung memeluk orangtua kami.
Acara selanjutnya, pidato terakhir 3 bahasa dari perwakilan angkatan kami. Sarah dengan pidato bahasa arab, Farha dengan pidato bahasa inggris, dan Afif dengan pidato bahasa indonesia. Aku duduk bersama ASKAR di belakang. Kami tertawa berderai, berpose manis saat difoto, dan menceritakan perasaan saat di panggung tadi. Ah! Kapan lagi kami bisa begini…?
“Persembahan terakhir dari ASKAR, kepada kelas Aisyah Binti Abu Bakar (ASKAR) dipersilahkan naik ke atas panggung. “ Kami bersiap, berbaris, dan mulai naik. Sebuah nasyid Edcoustic “Sebiru Hari Ini” diiringi gendangan khas dari salah seorang sobatku, Fatimah. Manis. Dan sebuah nasyid yang menemani kami dari awal saling mengenal hingga ikatan ukhuwah ini begitu erat dan hangat, “Untukmu Teman”. Aku tersenyum memandangi satu per satu sahabatku. Air mata yang kami kira akan meluncur saat ini tak juga muncul. Tangan kami saling berpegang erat. Saling menguatkan. Senyum terakhir kami di sini… Di sebuah sekolah luar biasa, SMPIT Insan Mubarak Boarding School….^_^
Kami turun dari panggung. Beberapa sahabatku mulai menangis. Aku masih terdiam di atas panggung, menunggu antrian turun. Aku pandangi sahabat-sahabtku. Aku tak bisa menangis. Tak bisa. Tak bisa. Namun… Aku langsung berlari ke arah salah satu sahabatku, Fakhirah. Sahabat yang begitu berkesan bagiku. Sahabat yang selalu menjadi semangatku di sini. Sahabat yang menggugah diriku untuk tetap semangat berjalan beriringan hingga  saat ini. Aku memeluknya dan sekejap air mataku meluncur deras. Aku sedih. Ruang dan jarak akan begitu saja memisahkan kami. Kacamataku sudah basah. Lautan airmata tumpah seketika di lapangan kecil itu. Aku menatap wajahnya lagi. Ia menghapus airmataku.
” Jaga dirimu ya! Hammasah Ukhti!…” Aku mengangguk.
“Syukron Ukhti, Sukses! Allah always be with us…” Kami saling berpelukan satu sama lain. Airmata kami rasanya tak bisa tertahan lagi. Deras.
Lantunan nasyd “Doa Rabithah” menemani desahan tangis kami. Semua orang yang tahu tentang perjalanan kami menyatukan ukhuwah ini, menangis. Suasana menjadi haru. Adik kelas kami menyerbu kami dan dan langsung memeluk kami. Menangis. Aku tak dapat ungkapkan kata-kata lagi. Kelu. Terlalu indah. Aku sedih…..

*******

Percakapan seminggu yang lalu….

“Apa rencana kalian ke depan?” Tanya wali kelas kami di tengah pelajaran matematika yang asyik dan menyenangkan. Kelas menjadi gaduh. Semua berebutan menghamburkan jawaban. Sebuah teriakan menghentikan kami.

“….. Haflatul wada’ di Mekkah dan….  Kita reunia-an di Surga….” Teriak seseorang dari kursi belakang.

“ Amiiin… ALLAHU AKBAR….!” Teriak kami bersamaan. Perkataan itu jadi janji kami sejak itu. Doakan kami ya……………..!

*******

Kini, aku berada di sebuah sekolah yang lebih dikenal dengan sebutan “Kampus Peradaban”. Rasa rindu akan hadirnya mereka kembali takkan bisa terlukiskan. Hanya satu kata untuk kalian sobat-sobatku. I Love You All Coz Allah….

Aku berlayar menyebrangi samudera tanpa tujuan
mengetas dugaan yang belum tentu tampak jalanan
sayup-sayup desahan keagungan menyerumput kerinduan
berperang perasaan melawan kesedihan
aku datang, teman
menembus karang hancurkan badan
melawan badai ombak korbankan angan
menjemput sebuah panji persaudaraan
yang telah lama tak tersandang
290211

Biografi penulis

Nama    : Luthfiah Fadlun Muhammad

Nama Pena: Syakira El Askarullah

Email    ; luthfiyah15@gmail.com

Facebook.    :Luthfiah Fadlun Nylifana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: