Hari Istimewa Bunda

Berikut ini postingan dari saya berikutnya yang berjudul Hari Istimewa “Bunda”,moga bagi temen2 yang begitu  sayang sama “Bundanya” bisa slalu inget akan perjuangannya dalam mendidik anak.Moga cerpen ini bermanfaat bagi anda yang membacannya,langsung saja ke TKP!!

              Pagi itu, aku terbangun dari tidurku. Aku melirik jam dindingku. Ternyata, waktu telah menunjukkan pukul 05.00. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu, dilanjutkan dengan menunaikan ibadah Sholat Shubuh. Kemudian, aku mandi. Setelah itu, aku bersiap-siap untuk sarapan bersama keluargaku tercinta.
“Anisa! Waktunya sarapan! Mari kita sarapan bersama!” ajak bunda.
“Iya!” aku pun menyahuti sambil buru-buru memakai tas sekolahku.

            Sesampainya di ruang makan, bau nasi goreng udang tercium sangat lezat. Aku pun menyantap nasi goreng udang yang telah dibuat oleh bunda kepadaku.
“Bunda, nasi goreng udangnya rasanya benar-benar Cettaarr Membahana Badai Menggelegar, deh! Dan Terpampang Nyata!” seruku kepada bunda sambil meniru ucapan ala Syahrini.
“Hahahaha… Terima kasih, Sayang,” ucap bunda.
Aku pun mengangguk sambil tersenyum. Kulirik jam tangan di tangan kiriku, waktu menunjukkan pukul 06.15. Aku pun buru-buru sarapan dan segera berpamitan kepada ayah dan bunda.
“Ayah, Bunda, Anisa pamit dulu, ya! Assalamu ‘alaikum!” kataku sambil mencium tangan ayah dan bunda.
“Iya, Sayang. Wa ‘alaikumsalam,” sahut ayah dan bunda bersamaan.

Aku pun menyusuri jalan hingga tibalah di sekolahku tercinta. Aku bertemu dengan ketiga sahabatku, Shafa, Zahra, dan Nabila.
Teeet! Teeet! Teeet!
Bel sekolah pun berbunyi, saatnya untuk masuk kelas.
“Selamat pagi, Anak-Anak,” sapa Bu Anita kepada kami.
“Selamat pagi, Bu,” balas kami.
“Silahkan buka halaman 55, dan kerjakan soal-soalnya,” kata Bu Anita.
“Baik, Bu,” balas kami.

***

Aku pun berlari menyusuri jalan. Tibalah aku di sebuah rumah ber-cat putih. Disana, tampak seorang ibu yang sedang duduk-duduk sambil merawat bunga-bunga kesayangannya. Yup! Rumah itu adalah rumahku, dan, ibu itu adalah bundaku tercinta.
“Assalamu ‘alaikum, Bunda. Aku pulang!” kataku sambil mencium tangan bunda.
“Wa ‘alaikumsalam, Sayang. Selamat datang!” ucap bunda.
“Hai Sayang, sudah pulang?” tanya ayah tiba-tiba.
“Oh, Ayah. Sudah, dong, Yah,” jawabku.
“Ayah ingin menyampaikan sesuatu, Sayang. Ayo, kesini!” ajak ayah sambil mengajakku ke dalam rumah.
Aku pun berjalan masuk ke dalam rumah. Kemudian, aku pun menaruh tasku di sofa dan segera mengikuti ayah ke teras belakang.
“Ada apa, Yah?” tanyaku penasaran.
“Besok, kan, tanggal 2 Maret. Pasti tahu, kan, hari apa?” kata ayah.
“Oh iya! Besokkan, hari ulang tahun Bunda!” seruku. Ups! Ayah segera menutup mulutku.
“Ssshhtt! Jangan keras-keras, Anisa. Ayah ingin membelikan gelang emas baru. Nanti malam, Ayah akan pergi ke toko perhiasan. Kalau kamu, Anisa, mau memberi apa kepada Bunda?” tanya ayah.
“Hmmm … Apa, ya?” aku pun bergumam.
“Ayah tunggu jawabanmu nanti!” seru ayah.

Bagaimana jika besok, aku akan membuat nasi goreng cinta ala aku, dan aku akan membelikan bunda baju dan jilbab? kataku dalam hati.
Tanpa berpikir panjang, aku segera mandi, kemudian bersiap-siap untuk pergi mengajak ayah ke kota untuk membeli hadiah untuk bunda. Aku segera mengambil uang di celenganku sebanyak Rp.350.000. Kulirik jam tangan kesayanganku, waktu menunjukkan pukul 19.00. Tak lama kemudian, kami pun berangkat menaiki mobil.
“Ayah, kita ke toko pakaian dan jilbab dulu, ya!” ucapku kepada ayah.
“Siipp!” sahut ayah.

Kami pun berhenti di sebuah toko pakaian dan jilbab bernama Toko As-Syifa. Kulihat banyak sekali model-model baju yang bagus. Namun, aku melihat satu yang paling bagus. Baju itu berupa jubah berwarna biru muda bermotif bintang-bintang. Aku pun segera mengambil baju itu.
“Ayah, bagaimana menurutmu tentang baju ini?” tanyaku kepada ayah.
“Wah, bagus sekali, Sayang!” ucap ayah dengan takjub.
“Terima kasih, Ayah,” kataku.
Ia hanya tersenyum. Aku pun melanjutkan ke tempat jilbab. Aku bingung memilih jilbab disana. Karena, semuanya juga bagus-bagus. Tak lama kemudian, mataku tertuju pada sebuah jilbab kira-kira panjangnya se-perut berwarna putih sutra ditambah cahaya lampu yang membuatnya makin bersinar. Aku pun juga mengambilnya, dan segera pergi menemui ayah.
“Ayah, ini jilbabnya. Bagaimana menurut Ayah?” tanyaku.
“Jilbab ini, juga tak kalah bagusnya!” seru ayah.

Aku pun menuju kasir dengan membawa baju dan jilbab yang kupilih tadi. Ternyata, totalnya adalah Rp.200.000. Itu karena, bajunya berharga Rp.150.000, sedangkan, jilbabnya berharga Rp.50.000. Setelah membayar ke kasir, aku pun pergi bersama ayah menuju toko perhiasan.
Kami pun melihat-lihat terlebih dahulu. Ayah memilih sebuah gelang emas dengan hiasan berlian yang membentuk hati. Harganya Rp.2.350.000. Setelah dari toko perhiasan, kami pun pulang.
Kami tiba di rumah pukul 21.00. Kulihat bunda sedang menonton televisi di ruang keluarga.
“Assalamu ‘alaikum. Kami pulang,” kataku dan ayah.
“Wa ‘alaikumsalam. Kalian belanja apa saja?” tanya bunda penasaran.
“Hanya beberapa kebutuhan kami, bunda,” jawabku asal.
Aku pun segera meninggalkan bunda dan menuju kamar. Aku pun membungkus kado dengan kertas kado. Setelah itu, aku pergi ke kamar mandi untuk sikat gigi, kemudian aku pergi ke tempat tidur.
Namun, aku tidak bisa tidur. Tiba-tiba, pintu terbuka. Muncullah sesosok bidadari. Itu adalah, bunda.
“Hai Sayang. Belum tidur?” tanya bunda.
“Hai juga Bunda. Belum, Bunda. Bunda sendiri kok juga belum tidur?” balasku.
“Bunda belum ngantuk. Oh iya, Bunda ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada kamu dan Ayah karena telah bisa menjadi kepercayaan Bunda serta bisa menjadi orang yang istimewa untuk Bunda,” kata bunda.
“Sama-sama, Bunda. Kami juga minta maaf jika selalu membuat Bunda kerepotan dan sedih,” ucapku terharu.
Bunda tersenyum dan mengangguk. Kemudian, bunda mengecup keningku, dan segera meninggalkanku dari kamar. Tak lama kemudian, aku pun tertidur.

Pagi yang cerah, namun, bunda tidak ada. Yup! Itu karena, ayah mengajak bunda untuk lari pagi, sedangkan aku, membuat nasi goreng cinta ala Chef Anisa. Hehehe.
Setelah 15 menit berlalu, nasi goreng cinta ala Chef Anisa selesai! Yeay! Aku pun menambahkan dua potong timun sebagai matanya, kemudian, cabai merah besar sebagai mulutnya yang sedang tersenyum, potongan-potongan kol sebagai rambutnya, dan sebuah brokoli kecil sebagai hidungnya.
Setelah itu, aku pergi ke kamar untuk menulis kartu ucapan untuk bunda. Tak lama kemudian, ayah dan bunda datang. Namun, aku dan ayah tak langsung memberi kejutan kepada bunda. Mata bunda ditutup dengan kain oleh ayah. Kami pun berkumpul di ruang keluarga. Aku membawa kadoku yang telah aku bungkus semalam beserta kartu ucapan, begitu juga ayah. Aku juga membawa tiga piring nasi goreng ala Chef Anisa. Sedangkan ayah membawa kue tart rasa blackforest bertuliskan Happy Birthday dengan sebuah lilin kecil ditengahnya.

Ayah pun mulai membuka kain yang menutupi mata bunda.
“KEJUTAN! HAPPY BIRTHDAY, BUNDA!!!” seruku dan ayah bersama.
“Ya ampun! Terima kasih!” kata bunda terharu.
“Happy birthday, Bunda. Happy birthday Bunda. Happy birthday, happy birthday, happy birthday, Bunda … “ aku dan ayah bernyanyi sambil membawa kue tart rasa blackforest.
Bunda pun make a wish terlebih dahulu. Kemudian, beliau meniup lilin dan segera memelukku dan ayah. Kemudian, bunda memotong kuenya dan membagikannya kepadaku dan ayah.
“Oh iya, Bunda. Ini ada nasi goreng cinta ala Chef Anisa alias buatanku!” seruku.
Bunda dan ayah pun mencicipinya. Mereka mengacungkan jempol kepadaku. Aku pun tersenyum bahagia.
Ayah mengambil kadonya dan segera memberikannya kepada bunda. Bunda menangis bahagia. Aku juga memberikan kadoku. Bunda juga menangis bahagia dan memeluk kami.
Aku bahagia bisa mempunyai seorang Bunda yang bagaikan cahaya yang selalu menerangi hati dan kehidupanku. Terima kasih, Ya Allah…

Cerpen Karangan: Ayu Kusumaningdiyah
Blog: princessayuitsme.blogspot.com
Assalamu ‘alaikum…
Nama lengkapku, Ayu Kusumaningdiyah. Panggil aku, Ayu. Aku lahir di Bondowoso, 3 Juli 2000 dari pasangan Sugianto dan Sri Mudiyah. Kakak perempuanku bernama Efris Kartikasari dan kakak laki-lakiku bernama Andri Tilaqza.
Hobiku membaca, menulis, travelling, browsing, dan photography. Aku bercita-cita menajadi dokter anak dan penulis.
Jika ingin berkenalan lebih dekat denganku dan ingin mengirimkan kritik dan saran, kirim ke emailku: ayu_k.diyah[-at-]yahoo.com .. Add juga Facebook-ku: Ayu Kusumaningdiyah .. Jangan lupa follow Twitter-ku: @Hime_Ayu_ .. Kunjungi juga blog-ku: princessayuitsme.blogspot.com .. Terima kasih! Wassalamu ‘alaikum ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: