Jangan Menyerah

            Pada postingan selanjutnya saya akan membahas cerpen yang berjudul “Jangan Menyerah”,Pasti bagi para olahragawan Professional tidaklah akan pernah putus untuk mendapatkan kemenangan demi bangsa yang dicintainnya itu,Seperti contoh cerpen postingan saya ini.Jika anda penasaran dengan cerpen ini,langsung saja masuk ke TKP!!

            Arya berjalan menuju ke lapangan. Ia akan berlatih bersama Rendi. Ia masuk tim sepak bola sekolahnya yang akan bertanding melawan tim dari sekolah lain. Arya kelas 5 SD Mekar Sari. Rendi adalah sahabatnya yang juga anggota tim sepak bola sekolah mereka.

            Arya dan Rendi berlatih bersama setiap hari minggu. Mereka menggunakan seragam berwarna merah dan putih. Mereka juga membawa bola mereka sendiri. Kata Mama Arya, jangan pernah menyerah. Jika itu keinginan kalian, maka lakukanlah yang terbaik. Guru olahraga mereka juga bilang begitu.

Arya dan Rendi menepati janji mereka. Mereka selalu berlatih setiap minggu sore. Mereka berlatih di lapangan dekat rumah Arya. Mereka berlatih juga tak kenal menyerah. Di sekolah, kadang-kadang mereka berlatih saat jam istirahat. Tapi mereka berlatih di lapangan sekolah. Saat sore minggu, Rendi berjalan menuju rumah Arya.
Tok, tok, tok. Rendi mengetuk pintunya. “Assalamu’alaikum, Arya, ayo ke lapangan. Sudah siap belum?” Tanya Rendi.
“Yaaa, Sebentar!” Balas Arya.
Sesaat kemudian Arya sudah keluar dari rumah. Ia menemui Rendi, kemudian berjalan bersamanya menuju lapangan.

Saat di lapangan, Arya dan Rendi bermain hom pim pa. Mereka menentukan siapa yang memulai duluan dengan cara itu. Rendi menang, ia mengambil bola dari tangan Arya, dan menentukan jarak lalu menendangnya. Arya bersiap menangkap bola di depan gawang. Tendangan Rendi begitu kuat, namun Arya bisa menangkapnya.

Sekarang giliran Arya menendang. Ia melakukan apa yang di lakukan Rendi sebelum menendang. Rendi pun sudah bersiap di depan gawang. Arya mengingat kata, “Jangan Menyerah!, Jika itu keinginan kalian, maka lakukanlah yang terbaik” itu kata Mama. Sedangkan Rendi pun sama. Dengan sekuat tenaga, Arya menedang bola ke arah gawang. Karena tendangannya terlalu keras, Rendi tak sanggup menangkapnya.
Arya berkata, “Sekarang, kita bermain rebutan, kita harus merebut bola dari pemain lain dan memasukkannya ke gawang.” Katanya.
“Oke!” Jawab Rendi.
“1,2,3. Mulai!” Balas Arya.

Arya memegang bola lebih dahulu. Ia berusaha agar bola tidak di rebut. Sambil membawa bola, ia menggiringnya menuju ke gawang. Rendi berusaha mengejarnya. Ketika sudah dekat, ia pun merebut bola. Bola sudah berada di Rendi. Kini Rendi menggiringnya menuju gawang, tetapi, Arya pun tak mau kalah. Ia mengejar Rendi sekuat tenaga. Tapi Rendi berhasil menjaga bolanya. Ia pun menendangnya keras-keras dan… GOL!, Ia berhasil memasukkan bola kedalam gawang.

“Yah, kurasa sudah cukup kita berlatih hari ini” Kata Arya akhirnya.
Hari pun sudah senja. Pertandingan dimulai minggu depan, hari sabtu. Mereka punya waktu berlatih seminggu lagi.
“Besok, kita berlatih lagi, waktu istirahat sekolah. Kalau bisa.” Kata Rendi.
“Baiklah” Balas Arya.
Selama seminggu, mereka berlatih. Saat hari jum’at, “Besok, kita lakukan yang terbaik!” Kata Arya. “Ya, dan jangan menyerah pastinya!” Jawab Rendi.
“Ya, kau benar.” Balas Arya.

Keesokan harinya, Rendi siap dengan sepatu dan baju bolanya. Ia berjalan menuju ke rumah Arya. Arya membukakan pintu. Mereka berjalan menuju ke sekolah bersama-sama. Di sekolah, mereka pemanasan dulu. Setelah itu, menuju ke lapangan bersama-sama. Sampai di lapangan, mereka mengatur strategi dan posisi. Yang pertama memegang bola adalah Arya, ia menggiringnya lalu mengopernya ke Rendi. Rendi mendapat bolanya. “Operan yang bagus!” Puji Rendi. Rendi berusaha menggiring bola tanpa di rebut oleh lawan. Kemudian ia mengoper bolanya ke pemain lain. Setelah itu, bola kembali di oper ke arah Arya. Sekarang, bola berada di Arya. Ia menggiringnya, kemudian, setelah berada di depan gawang, ia menendangnya keras-keras. Bola tak berhasil ditangkap, dan… GOL!. Bola tepat berada di gawang.

Tim Arya menang, mereka bersorak gembira. “Yeei!, kita menang!. Kamu hebat, Arya!” Puji Rendi. Arya tersenyum malu.
“Aah, itu tak seberapa” Balasnya.
Mereka mendapat piala juara 1. Piala itu di simpan di lemari kaca sekolah. Arya dan Rendi yang bertugas menjaganya. Mereka pun pulang dengan gembira. Mereka masih ingat kata Mama Arya, “Jangan Menyerah!”.

Cerpen Karangan: Auliya Fatimah Nur
Facebook: Auliya Fatimah Nur
Hai, teman-teman! Namaku Auliya Fatimah Nur. Aku kelas 3 SD. Aku sekolah di SD Muhammadiyah 16 Surabaya. Umurku 9 tahun. Hobiku menulis cerpen dan puisi. Sekarang Cerpen yang sudah kutulis ada 10 cerpen. Jika ada kritik atau saran, silahkan kirim ke alamat e-mailku. Ini alamat e-mail saya: AuliyaFNur@gmail.com. Terima Kasih. Wassalamu’alaikum wr. wb. (Auliya Fatimah Nur).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: