Sebuah Diary

Pada postingan berikutnya ini yang berjudul “Sebuah Diary”.Semoga bisa bermanfaat bagi anda yang suka dengan Diary.Silahkan langsung saja ke TKP!!

              Suara tangis sayup-sayup terdengar dari balik kamar.“Rini, ini ayah nak! Buka pintunya Rini” bujuk ayah Rini. Hening sebentar. Tampak Rini dengan mata sembab membuka pintu kamarnya. Lalu dia memeluk erat sang ayah. Ayahnya mengusap air mata Rini sembari berkata lirih, “Rin, ikhlaskan kepergian kakak dan ibumu. Mereka sudah tiada. Jangan mengis lagi ya..! Kan masih ada ayah dan mbok Tuti disini.” Rini mengangguk lalu tertidur di pelukan ayahnya.

             Sudah seminggu lalu kakak Rini meninggal dunia. Rini semakin sedih mengingat Ibunya juga meninggal dunia sebulan yang lalu. Rini kehilangan dua orang yang sangat dicintainya. Leukimia menjadi penyebab kematian mereka. Beruntung Rini tidak mewarisi penyakit Ibunya. Sejak kematian kakaknya, Rini cenderung mengurung diri di kamar. Dia tidak mau makan. Dia hanya menangis di kamarnya. Mbok Tuti pun kewalahan membujuknya. Rini hanya akan diam jika ayahnya yang membujuknya.
“Rini, kita makan yuk… Rini belum makan ‘kan? Mbok Tuti sudah masak kesukaan Rini,” bisik ayahnya. Perlahan Rini membuka matanya. Ayahnya menuntun Rini ke meja makan. Sepi. Itulah yang dirasakan Rini. Tampak dua kursi kosong menghiasi meja makan. Ayah mengerti perasaan Rini. Segera dia memberikan sepiring nasi.
“Nih, nasimu Rin.. Dimakan ya..! Kalau nggak makan kamu nanti sakit,” kata ayah sembari tersenyum. Rini mengangguk mengiyakan.
Selesai makan, ayah berbisik pada mbok Tuti, “mbok, tolong jaga Rini ya..! Saya ada lembur di kantor.”
“Tapi gimana Pak kalau non Rini nangis lagi?” jawab mbok Tuti. Ayah Rini diam sejenak, kemudian beranjak ke kursi Rini, lalu mengelus-elus rambutnya.” Rin, ayah ada lembur di kantor. Rini di rumah aja sama mbok. Ayah pulangnya cepat kok. Pulang nanti ayah belikan pisang goreng kesukaan Rini,” bujuk ayahnya.
“Nggak bisa!” teriak Rini. “Ayah selalu aja ninggalin Rini. Kakak sama Ibu udah ninggalin Rini, kenapa ayah mau ninggalin Rini lagi?”
“Ayah ada lembur di kantor nak. Nanti ‘kan ayah pulang Rini,” jelas ayahnya.
“Nggak bisa! Rini nggak mau!,” hardik Rini. Dia berlari masuk ke kamarnya lalu menangis.. Ayah bergegas menyusulnya.
“Rini, ayah tahu kamu masih kehilangan kakakmu. Tapi Rini harus terima kenyataan itu. ’Kan Rini udah kelas satu smp, udah dewasa. Ayah mohon, Rini jangan nangis lagi ya..,” pinta ayahnya. Rini tetap saja menangis. Dia ngambek lalu pergi ke kamar kakaknya. Mbok Tuti beranjak mau menyusulnya.
“Jangan mbok! Biarkan saja” larangnya.

Di kamar 3×4 itu Rini menangis. Bukan kamar yang besar tapi punya banyak kenangan tersendiri buat Rini. Dia memandangi setiap sudut kamar. “Sama seperti dulu,” ucapnya lirih. Lalu dia berbaring di kasur. Dia ingat dulu dia dan kakaknya pernah tidur bersama di kamar itu. Bercanda, tertawa, bahkan mengis. Rini meraba kasur itu. Halus dan empuk. “Sama seperti dulu,” pikirnya. Tapi ada yang aneh! Ada tonjolan timbul di atasnya, seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Sedikit penasaran, Rini lalu membuka kasur kakaknya. Benar saja! Ada sesuatu yang disembunyikan dibawah kasur. Sebuah diary!
Perasaan Rini kini campur aduk. Ada perasaan senang telah menemukan diary kakaknya, ada juga rasa penasaran.” Baca atau tidak ya..?” piker Rini. Akhirnya Rini memutuskan membacanya.

Dear diary
Hari ini ibuku meninggal dunia. Kami sekeluarga sangat sedih terlebih lagi adikku Rini. Kerap kali kudengar dia menangis. Kelihatannya dia tidak bisa menerima keadaan itu. Aku khawatir dengannya. Rini jangan menangis lagi ya! Kakak jadi sedih.

Air mata haru kian deras saja membasahi pipi Rini. Kemudian dia melanjutkan ke halaman kedua.

Dear diary
Perlahan-lahan tubuhku melemah. aku tahu leukemiaku sudah stadium akut. Aku tahu meskipun ayah dan dokter menutup-nutupinya. Aku tahu ayah pun sedih kehilangan ibu. Kerap kali dia kulihat dia meneteskan air mata bila memandangi foto Ibuk. Namun dia berkilah. Mungkin dia tidak ingin melihat anak-anaknya bersedih.

Rini semakin terharu. Tubuhnya lemas tak kuasa menahan kesedihan. Diary itu hanya menyisakan selembar tulisan lagi dan sisanya halaman kosong. Inikah yang terakhir?,” pikir Rini. Tangannya ragu-ragu membuka lembar itu. “Buka saja Rini,” pinta hati kecilnya. Akhirnya Rini berani membukanya. Dengan perasaan was-was dia membacanya.

Dear diary
Entah berapa lama aku disini aku tidak tahu. Aku ingin sekali bertemu dengan adikku. Sebentar lagi ulang tahunnya. Aku ingin memberinya hadiah. Tapi aku yakin aku tidak sempat. Mungkin ini hari terakhirku disini.. Mungkin aku akan menyusul Ibuk disana.
Untuk Rini adikku yang manis dan cantik. kakak nggak tahu Rini akan baca surat ini atau tidak, tapi kakak berpesan kamu jangan bersedih lagi ya..! Jangan menangis lagi. Kasihan ayah. Dia selalu mencemaskanmu. Maafkan kakak, kakak nggak seperti dulu yang selalu menemanimu. Temani ayah. Patuhi nasehatnya. Jangan melawan dia lagi. Kakak mungkin akan pergi tapi percayalah kakak dan ibu bahagia disana
Oh iya Rin, kakak punya hadiah untukmu. Memang belum ulang tahunmu tapi apa salahnya kakak hadiahkan untukmu. Disampul diary ini kakak sisipkan sesuatu untukmu. Terima ya..! Happy birthday adikku Rini.

“Kakak!,” pekik Rini histeris. Rini memeluk erat diary kakaknya. “Rini akan berubah kak. Rini janji,” ucapnya pelan. Kemudian jemarinya yang mungil meraba sampul diary.. Tampak bungkus kecil terlem rapi. Dengan hati-hati dia membukanya. Isinya sebuah kalung sederhana berliontinkan namanya namun cukup membuat Rini senang saat itu.

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, namun ayah Rini belum juga pulang.
“Non Rini tidur saja. Nanti mbok yang buka pintu buat ayah,” pinta mbok Tuti
“Nggak mbok. Rini mau menunggu ayah,” jawab Rini. Tiba-tiba suara bel berbunyi. Ting.. Nong.. Ting.. Nong.” Ayah..!,” teriak Rini. Rini berlari lalu membuka pintu. Dia memeluk erat ayahnya. “Maafkan Rini, yah. Rini menyesal,” ucapnya. Rini udah terima kepergian kakak dan ibuk. Rini nggak bakal nangis lagi. Rini nggak bakal buat ayah sedih. Rini janji”
Sang ayah tersenyum bahagia. “Terima kasih anakku. Kamu udah buat Rini tidak bersedih lagi,” gumamnya dalam hati. Lalu dia mengelus-elus rambut putri kesayangannya.
Sejak malam itu, semua hari-hari Rini berubah. Kini Rini menjadi anak yang ceria dan sangat patuh pada ayahnya.

Cerpen Karangan: Adi Kesuma Silaban
Facebook: http://www.facebook.com/adikusil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: