Kisah Persahabatan Tasya

Pada postingan berikutnya yang berjudul Kisah Persahabatan Tasya,yang saat ini masih di Sekolah Dasar,Dan untuk adek2 semua mungkin pernah mempunyai sahabat yang sangat dekat sekali,Untuk lebih jelasnnya langsung saja ke TKP!!!

                  Anastasya Anandra Putri Annetya atau biasa dipanggil Tasya adalah murid kelas 4 SD, dia sekolah di SD Angkasa Merdeka, Tasya adalah anak tunggal. Tasya adalah anak yang baik hati, cerdas, suka menolong dan rajin oleh sebab itu Tasya disukai teman–teman nya.
Pagi itu Tasya bangun pukul 05.30, lalu membereskan tempat tidur, pukul 06.00 dia mandi, pukul 06.20 Tasya siap–siap sekolah, pukul 06.30 Tasya sarapan dan pukul 06.40 Tasya berangkat sekolah.

Setiba nya di sekolah Tasya duduk dibangku nya beberapa saat kemudian Bu Theresia wali kelas Tasya, memperkenalkan murid baru nama nya Lea “anak–anak kita kedatangan teman baru namanya Lea Sabella, Lea kamu boleh duduk di sebelah Tasya”. karena Tasya dan Lea saling malu mereka tak mengobrol sedikit pun. Saat istirahat Tasya menemui Lea yang sedang ada di kantin sekolah, “Hai, boleh kenalan?” tanya Tasya “Boleh” jawab Lea singkat “nama kamu siapa?” tanya Tasya lagi “nama aku Lea Sabella tapi kamu bisa manggil aku Lea” Jawab Lea.

Tak terasa 8 tahun telah berlalu, Lea dan Tasya pun semakin akrab dan menjadi sahabat. Pada suatu hari saat Tasya sedang jalan–jalan, dia kecelakaan dan langsung di bawa ke rumah sakit terdekat oleh orang–orang yang melihat nya, setelah beberapa hari Tasya tak juga sadar. Dan akibat kecelakaan tersebut Tasya harus kehilangan kornea mata kiri nya, Lea yang juga sedih akan nasib sahabat nya mendonorkan kornea mata nya.

Saat hari operasi telah tiba bertepatan dengan hari ulang tahun Lea yang ke 17 tahun, tapi di hari ulang tahun nya bukan dia yang diberi kado tapi ia yang memberi kado kepada sahabat nya, kado terindah yaitu kornea mata. Di tengah jalan nya operasi tiba–tiba Lea kejang–kejang, dokter mencoba yang terbaik tapi sayang nya Lea telah pergi untuk selama nya, di hari yang memperingati hari lahir nya sekaligus di hari terakhir hidup nya.

Saat Tasya sudah sembuh dan boleh pulang dari rumah sakit, Tasya pun pulang kerumah bersama ayah dan ibunya, keesokan hari nya Tasya merasa tenaga nya sudah pulih dan meminta izin kepada ibunya untuk pergi kerumah Lea “Bu, Tasya mau kerumah Lea boleh tidak?” Tanya Tasya “Tapi, tenaga kamu belum pulih total Tasya” kata ibu, sebenarnya Bu Leoni (ibu nya Tasya) berbohong karena takut Tasya shok mendengar kabar Lea telah meninggal.

2 hari kemudian Tasya meminta izin kembali kepada ibunya “Bu boleh ya Tasya ke rumah Lea” Kata Tasya, “Ya sudah lah sana” jawab Bu Leoni, Bu Leoni pikir sudah saatnya Tasya tau apa yang telah terjadi. Tasya langsung pergi kerumah Lea, beberapa menit berlalu Tasya pun sampai di depan rumah Lea. Tok tok tok… Ciiittt, suara pintu berdecit saat sedang dibuka oleh Bu Leandra ibunya Lea, saat Bu Leandra keluar rumah untuk menemui Tasya matanya lebam seperti habis menangis sangat lama sehingga Tasya menanyai bu Leandra “Tante, tante kenapa?” Tanya Tasya “Tante nggak apa–apa kok Tasya.. Oh iya ayo kita masuk dulu” Bu Leandra melontarkan senyuman kecilnya, Tasya duduk di sofa berwarna krem. “Tunggu dulu ya Tasya” “iya tante” kata Tasya, Bu Leandra segera membuatkan teh dan mengambil surat terakhir dari Lea “Tasya ini ada surat buat kamu” kata Bu Leandra sambil menangis

From : Lea Sabella
To : Tasya
“Maaf kalau aku banyak salah sama kamu
Maaf jika aku selalu membuatmu menangis
Tapi mungkin hari ini adalah hari terakhir ku membuatmu sedih, menangis
Dan kado terakhir dariku yaitu kornea mata dan nyawaku
do not you cry over me please…
Sekian surat dariku”

Tulisan Lea yang lembut merangkai di setiap sisi kertas, begitu tersayat sedih hati Tasya saat tahu dia sembuh dari nyawa sahabat nya. “Tante dimana makam Lea” tanya Tasya sambil menangis “Ke utara dari sini”, Tasya langsung pamit kepada Bu Leandra dan menuju ke tempat pemakaman Lea. Saat sudah sampai Tasya langsung mencari makam Lea, berjam–jam telah dilalui Tasya di pemakaman tersebut tapi Tasya tak dapt menemukan makan Lea, Tasya pun mulai kelelahan tapi saat dia mulai putus asa dan mulai melangkahkan kakinya keluar gerbang dia melihat sebuah makam yang masih basah tanah nya dan melihat terukir nama Lea Sabella. Tasya pun menangis sejadi–jadinya, dan diapun meletakkan kalung liontin bening di atas makam Lea dan pulang kerumahnya. Setelah itu setiap hari Minggu Tasya selalu mengunjungi makam Lea.

Tamat dan Berakhir… ? :D ? don’t cry…

Cerpen Karangan: Benedicta Loveni M
Facebook: Benedicta Loveni Melki S

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: