Ladang Misterius

Pada postingan selanjutnya berjudul Ladang Misterius,Mungkin bagi semua adek2 kata ladang sudah tidak asing lagi,Cerpen ini mengisahkan kehidupan di ladang,Untuk lebih jelasnnya langsung saja ke TKP!!!

               Liburan kali ini, Allifa belum tahu akan berlibur kemana. Hari ini, adalah keputusan Ummi dan Abi untuk berlibur kemana. Samar-samar, ada dua orang yang umurnya sekitar 40-tahunan berdiskusi. Semakin lama, semakin mendekat. Mereka berduapun terlihat. Ya, itu dia! mereka berdua adalah Ummi dan Abi Allifa.

              Burung-burung berkicauan. Ditemani ramainya suara di luar sana. Matahari yang begitu terik telah menyinari dari 3 jam yang lalu. Tetesan embun pagi dari dedaunan, cukup terdengar. angin berbisik lembut. Kupu-kupu berterbangan di atas sana. “Sayang, Ummi dan Abi sudah memutuskan kita akan berlibur ke mana jadi…” kata-kata Ummi terputus. “Ke Bali ya Mi? atau ke Pengandaran? Yeay… kepantai kan?” tanya Allifa beberapa kali. Ummi menggelengkan kepala sembari tersenyum. “Tidak sayang. Di tahun ini, kita akan pergi ke Rumah Nenek dan Kakek di Sumedang. Dari rumah kita kan tidak terlalu jauh sayang..” ucap Ummi lagi. “Iya deh, iya” ujar Allifa.

Memeng betul, Sumedang dengan rumah Allifa tidak terlalu jauh. Rumah Allifa berada di Bandung. Jadi, kira-kira cukup menempuh waktu dengan sekitar kurang lebih 3 – 4 jam. “Ummi, nanti disana kita akan bagaimana? kan enggak ada pantai” kata Allifa. Bibir Allifa seketika maju 5 cm. “Aaah… di sana pasti akan ada pengalaman yang berkesan. Dan jauh lebih baik dari pantai” jawab Ummi. “Iya. Disana, ada sawah, kebun, ladang, kolam, dan banyak lagi. Pokoknya seru” tambah Abi yang tiba-tiba duduk di sebelah Allifa. Allifa tak bisa apa-apa. Allifa hanya duduk mengiyakan apa yang Ummi dan Abi bilang.

Mata Allifa terus tertuju pada langit. Langit yang begitu cerah dan awan yang putih bersih itu membentuk aneka bentuk yang berbeda. Tapi, Allifa terus melihat awan yang berbentuk garis tegak lurus. Di sana, Allifa membayangkan Allifa akan ada di sana. Mulut Allifa tersenyum melihatnya. Tiba-tiba, KRING… KRING… nada telepon rumah berbunyi sangat nyaring. Sampai-sampai, membuyarkan lamunan Allifa. Saking kagetnya, Allifa berbicara aneh. “Ha?! dimana kebakaran? ada apa?” kata Allifa terkaget-kaget. Mata Alllifa seketika memerah. “Ada apa sih sayang?” tanya Ummi yang melewati Allifa. “Hah.. untung saja, bukan kebakaran” gumam Allifa pelan. “Dimana ada kebakaraan?” tanya Ummi lagi. “iiih.. Ummi salah dengar kali. Maksud aku tadi, ada telepon rumah tuh yang berbunyi” jawab Allifa berbohong. Ummi hanya manggut-manggut sambil mengangguk-anggukan kepalanya. “Ummi, aku yang ngangkat telepon yaa!” pinta Allifa agak sedikit memelas. Allifa langsung pergi ke ruang tamu. Di ruang tamu, aku segera mengambil gagang telepon.
Allifa : Halo, Assalamualaikum! ini dari siapa ya?
Nenek : Waalaikumsallam, ini nenek nak! ada Ummi?
Allifa : Oh, nenek! ada kok nenek tunggu ya..
Nenek : Iya cu..
“UMMI.. ADA TELEPON” teriak Allifa. Teriakaanya begitu keras. Tetapi, tidak ada yang menjawab. Allifa akhirnya cepat memutuskan.
Allifa : Nek, Ummi nya enggak ada di rumah. Kayaknya sedang pergi di luar
Nenek : Ya sudah, titip pesan ini ya! Besok pagi, Nenek tunggu di Ladang. Itu lho, ladang yang berada di belakang rumah nenek. Kan, kata Ummi, sekeluarga akan pergi kerumeh nenek
Allifa : Iya.. hm.. iya nek. Insya Allah, aku segera menyampaikan pesan ini. Assalamulaikum! nek.. daah
Nenek : Waalaikumsallam cu! semoga nanti selamat ya.. dah juga sayang!

Kemudian, Allifa bergegas berlari menuju kamar. Di sana, Allifa menyiapkan barang-barang yang diperlukan untuk berlibur nanti. Setelah itu, Allifa menyambar handuk kecil dan menghampiri kamar mandi. Brush… byur.. Alifa mandi dengan senang hati. Di sela-sela saat mandipun Allifa bersenandung.

“Semua siap. ini siap.. siap.. itu siap. Semua siap” kata Allifa. Kini, Allifa sudah mandi dan berpakaian. Alifa memakai dress yang dilapisi dengan jaket cardigan. Rok rempel berwarna hijau kuning dan yang lainnya. Tak lupa juga, ia memakai jilbab yang menutupi dada. “Ummi, semua sudah siap! hanya pergi saja..” ucap Allifa enteng seraya menyambar tas ranselnya. “Oke! ayo masuk ke mobil!” seru Abi tegas. Allifa hanya mengangguk dan berjalan meninggalkan rumah. Sedangkan ummi, sedang mengunci pintu rumah. Semua sudah ada di mobil. Brum… brum… mobil melaju dengan cepat.

Beberapa jam kemudian, Allifa dan sekeluarga sudah sampai tepat di halaman rumah Nenek. “Lif.. Allifa.. Allifa” Ummi membangunkan Allifa. Allifa menguap sambil menggeliatkan badan. “Eh, iya bun. Kata nenek, nenek tunggu di ladang” jelas Allifa. “Tapi, tadi Ummi di sms sama nenek, bahwa nenek nunggu di dapur” sahut Bunda. “Tapi, abi juga kemarin dapat telepon, katanya nenek tunggu di sawah” ujar Abi ikut-ikutan. “Ya, udah Abi sama Ummi tunggu di dapur. Aku saja sendiri ke ladang. Huh” jawab Allifa ketus. Senyum sinis pun ada di wajah Allifa. Allifa berlari kearah belakang rumah nenek. Sebenarnya, Allifa tidak tahu ladang berada dim ana. Tapi, Allifa yakin ladang berada di sebelah sawah. Ya, ternyata benar, Ladang itu berada di sebelah sawah.

Perlahan, Allifa memasukki ladang itu lebih jauh. Alunan musik yang sendu terdengar. Tangisan pun terdengar. Makin lama, suara itu makin terdengar. Bulu kuduk Allifa semakin merinding. Samar-samar terlihat ada bayangan lansia yang melewat. Dengan perasaan yang ragu-ragu, Allifa menelusuri ladang lebih lanjut. Di tengah ladang, terlihat buah-buahan yang di simpan di satu tempat. Badan Allifa semakin kaku. “Ha?! ini ladang misterius..” ujar Allifa. Allifa lalu lari terbirit-birit.

Sesampainya di rumah nenek, Allifa langsung menceritakan semua kejadian tadi dengan detail. “Nah, begitu ceritanya” kata Allifa dengan nafas yang terengah-engah. Bukannya memasang wajah penuh tanya, nenek justru tertawa. “Hahahahaha.. nak, yang suara alunan musik sendu itu nenek sedang menyanyi, lalu jika tangisan itu anak tetangga sebelah. bayangan lansia itu nenek dan buah-buahan itu buah-buahan yang sudah busuk dipanaskan. Hhahaha” tawa nenek. “hahahaha” semua tertawa. “Stt.. ” Allifa memberhentikkan semua tawa. “Nek, Allifa namain ladang itu ya!” pinta Allifa. “Boleh, apa?” tanya Nenek. “Ladang Misterius..” sahut Allifa tersenyum penuh makna. “Hahahahaha” lagi-lagi, tawa berderai di setiap waktu.

Jadi, Nama ladang itu adalah Ladang Misterius. Mungkin nama ladang itu akan abadi. Karena, di balik kata itu ada cerita yang menarik. “ah.. gimana yah, kalau beberapa tahun kemudian ladang misterius akan menjadi pariwisata?” tanya Allifa dalam hati. Ah, tunggu saja beberapa tahun. Karena semua butuh proses..

Cerpen Karangan: Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Blog: http://halamanrafid18.blogspot.com/
Facebook: Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Twitter: @dhifnadhifrafid

Komentar dari pembuat cerpen..

Assalamualaikum..
Hai teman-teman! kembali lagi bersamaku. Sang penulis cilik! Nama lengkap ku Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah. Sering dipanggil Rafid. Kalian juga boleh memanggilku dengan sebutan Rafid. Cerpenku sebelumnya adalah Garden Party, Surat yang Tak Tersampaikan, Secret ad Mire (penggemar rahasia), dan lain-lain. Nanti juga ada novelku yang akan diterbitkann! Aku adalah anak ke-2 dari 2 bersaudara. Kakakku adalah Nida Asla Thufaillah khairunnisa. Sekarang, aku sudah duduk di bangku kelas 4. Lebih tepatnya lagi 4 Zaid bin Haritsah, atau yang bisa juga disebut 4 A. Aku bersekolah di SDIT FITHRAH INSANI. Jika yang mau kenalan denganku lebih lanjut, silahkan aad fb ku atau follow twiitterku oeke?!
kunjungi blog-ku juga yaa… alamat di atas.. bye! sekian dari ku ya, do’akan aku agar bisa menulis cerpen lebih banyak. Bye!
Wassalamualaikum..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: