Layangan Bumi

Berikut ini postingan cerpen yang saya rilis yang berjudul Layangan Bumi,Postingan ini menceritakan seorang anak yang masih hobi bermain layangan,Untuk lebih jelasnnya langsung saja ke TKP!!!

            Namanya Bumi dan usianya 9 tahun. Tak bisa bermain layang-layang bahkan untuk menerbangkannya ke langit saja ia masih payah. Sering layang-layangnya berakhir dengan mencium tanah dan kemudian robek akibat benturan macam-macam. Kalau sudah robek begitu, Bumi hanya bisa pasrah dan pergi meninggalkan lapangan dengan seutas senyum semringah. Ia tahu, besok ia harus kembali ke tanah lapang itu dengan layang-layang sederhana seharga dua ribu rupiah yang baru. Baginya sebuah usaha itu penting dan menerbangkan layang-layang ke langit merupakan suatu hal yang membutuhkan usaha ekstra.

              Begitulah kegiatannya selama musim layang-layang berlangsung. Menyisihkan dua ribu rupiah dari uang sakunya, membeli layang-layang di toko Ahong setelah pulang sekolah, kemudian pergi ke tanah lapang di sorenya untuk kembali mencoba menerbangkan layang-layangnya ke langit.

“Walaupun pada akhirnya berakhir dengan mencium tanah, tapi semakin hari aku merasa layang-layangku semakin tinggi di udara. Jadi jika aku mencoba menerbangkannya setiap hari, besar kemungkinan sebelum musim layang-layang berakhir, layang-layangku telah mencapai langit.”

Hampir di penghujung musim layang-layang. Di tanah lapang, aktivitas sepak bola sudah hampir mendominasi dari biasanya. Bumi tak peduli, untuk saat ini tidak ada yang lebih penting selain layang-layangnya, angin, dan langit.

Akhir musim pun tiba dan layang-layangnya tak juga mencapai langit. Hanya berhasil naik beberapa milimeter saja di udara dan anak keras kepala itu tetap bersikukuh mau menerbangkan layang-layangnya hingga ke langit. Otaknya mulai bekerja, berpikir, berpikir, berpikir dan merenung.

Bumi mulai melangkahkan kakinya ke sisi kanan tanah lapang dengan belari. Kedua tangannya mendekap layangannya di dada dan dipegangnya kaleng susu bekas, tempat benangnya di lilit bergumpal-gumpal menumpuk, di tangan kirinya.

Di sisi kanan tanah lapang, sambil mengambil ancang-ancang, Bumi mulai mengulurkan benang sedikit demi sedikit dan kemudian berlari dengan cepat. Secepat ia bisa. Dari satu sisi tanah lapang ke sisi seberangnya. Benang terulur sedikit demi sedikit. Yakin!

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….” Teriak Bumi, sepanjang ia berlari.

Seperempat mencapai finish, Bumi membalikkan tubuhnya dan berlari mundur. Perlahan larinya memelan sampai akhirnya kedua kakinya terhenti sempurna. Kini, layang-layangnyalah yang terlihat paling kecil di langit. Jauh.

“Apa kubilang! Sebelum musim berakhir!”

(Revisi, 24 April 2013)

Cerpen Karangan: Annisa Mauliddina
Blog: selembarlangit.blogspot.com
Facebook: Annisa Mauliddina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: