Aku Butuh Teman Bukan Musuh

Pada postingan berikutnya berjudul Aku Butuh Teman Bukan Musuh.Bagi teman2 pastinnya ingin memiliki sahabat atau temen dekat.Seperti kisah cerpen ini,Untuk lebih jelasnnya langsung saja ke TKP!!!

                 Bel berbunyi nyaring. Suara itu terdengar sampai lantai 2. Bahkan sampai lantai 3. Matahari yang begitu terik merambat melalui jendela-jendela kelas. Semua siswa/i kelas 4 sekolah dasar, duduk dengan tertib. Tok.. tok.. tok.. seseorang mengetuk pintu dari luar. Samar-samar, ada wanita cantik berjilbab merah muda, berkacamata, dan memakai jubah berwarana ungu mengilap. “Assalamualaikum anak-anak” ucap Bu Lilia seraya melambaikan tangannya. “Waalaikumsallam Bu Guru!” jawab anak-anak serempak. Terlihat dari kejauhan, Bu Lilia tersenyum. “Nah anak-anak, berhubungan sekarang sekolah kita sedang milad jadi mohon perhatiannya. Jadi, kita tidak belajar untuk sementara wakti” kata Bu Lilia. “Tapi, hanya untuk sehari ini yaa. Oke, silahkan anak-anak turun ke bawah” lanjut Bu Lilia. Semua siswa segera turun ke bawah.

“Iih.. Argh! kenapa coba, aku lupa minta uang? jadinya, aku cuma nonton deh” gumam Shasha dalam hati. “Wooi” kata Dhisa. Dhisa menendang kaki Shasha. Dhisa juga menampar pipi kanan Shasha dan Dhisa juga menarik kerah Shasha. “Dhi.. dhi.. sa!” ucap Shasha tergagap dengan nada pelan. Saking sakitnya, Shasha mulai menangis. Di sana, tidak ada teman. “Hiks.. aku butuh teman. Bukan musuh” kata Shasha dalam hati. “Kenapa lo? lo nangis? Wlo..” ujar Dhisa sambil menjulurkan lidahnya. Kemudian Dhisa menyenggol tulang rusuk Shasha.

Gedubrak…! Shasha terjatuh dari tangga. Shasha tergeletak di lantai. Karena orang-orang sedang menonton pentas seni dan membeli di areA bazar, jadi tidak ada yang menolong Shasha. Dhisa menginjak perut Shasha yang masih tergeletak. Lalu, Dhisa berlari dan memasang wajah yang cantik. Tangisan Shasha tak kunjung berhenti. Shasha tidak mampu meminta tolong. Kini, mata Shasha sudah tidak jelas. Rasanya, sungguh pusing tujuh keliling. Shasha pun pingsan seketika.

Beberapa menit kemudian, Bu Widia mengangkat Shasha ke UKS. Dusana, Shasha diobati dan ditenangkan. Shasha siuman dari pingsannya. “Waw.. ada kebakaran? ada gempa? aku di sini… tolong!” kata Shasha linglung. Bu Widia membelai jilbab yang dikenakan Shasha. “Huaa.. hiks.. hiks.. hiks” tangis Shasha. “Sella.. sella” panggil Shasha. Bu Widia penasaran. Memang, di sekolah ini tidak ada satupun yang bernama Sella. Kenapa ya, Shasha memanggil Sella terus? Sungguh Misterius.

Karena Shasha berbicara yang aneh-aneh, Shasha langsung pulang diantarkan Bu Widia. “Sha, Bu Widia ke sana dulu ya! Mau membicarakan kepada wali kelasmu, Bu Lilia” kata Bu Widia seraya tersenyum penuh arti kepada Shasha. Shasha hanya mengangguk. Bu Widia sekarang telah menjauh. Tapi, Dhisa menuju Shasha. “Woi.. Sha! lo kenapa?” tanya Dhisa tidak sopan. “Apa.. ak.. aku.. punya.. mu.. musuh..” kata Shasha. “Aku sakit hati Dhisa. Hati kecilku sudah muak. Aku tak tahan lagi menahan emosi. Aku butuh teman, bukan musuh!” emosi Shasha akhirnya keluar. semua menoleh kepada Dhisa dan Shasha. Rupanya suara Shasha tinggi, hingga akhirnya terdengar sampai sudut sekolah. “Dhisa.. jelasin dong! Aku udah muak nih. Udah r tahun aku di ejek, dan lain-lain” kata Shasha.

“Dhisa, aku katakan lagi ya! AKU BUTUH TEMAN, BUKAN MUSUH!” teriak Shasha.

Selesai

Cerpen Karangan: Muhammad Rafid Nadhif Ruzqullah
Facebook: Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Blog: http://www.halamanrafid18.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: