Cinta Tak di Restui

Postingan selanjutnya berjudul Cinta Tak di Restui.Bagi para anak remaja dan dewasa pastinnya menginginkan kasih sayang dari seseorang yang bisa menemani anda pada saat anda sedih maupun gembira,Tapi bilamana kalau cinta itu tak di restui oleh orang tua,apa yang anda rasakan dan anda alami.Seperti kisah cerpen ini.Untuk lebih jelasnnya langsung saja ke TKP!!!

“Dimana dia?” tanya seorang anak muda dengan nada serius kepada seorang wanita paruh baya ketika ia masuk ke sebuah kamar hotel nomer 140. Wanita paruh baya itu menunjuk ke arah tempat tidur yang diselubungi tirai berwarna merah marun. Dengan langkah hati-hati pemuda itu mendekati tempat tidur itu. Ketika ia membuka tirai itu, di lihatnya wanita yang ia cintai itu sedang tidur pulas.

Ia dekati wanita itu, lalu memegang tangannya.
“Tolong, Bu, matikan Acnya, Mirah kedinginan.” Pinta pemuda itu.
Namun wanita paruh baya itu tetap duduk di atas kursi goyang dekat pintu.
“Ibu.. apa kau mendengarku? Tolong matikan Acnya!” pinta pemuda itu lagi.
Wanita paruh baya itu tetap tak beranjak dari sana. Pemuda itu mulai geram. Ia melirik ke arah meja, namun remote untuk mematikan AC tidak ada. Lalu ia membuka laci meja rias, juga tidak ada.
“Dimana kau letakkan remotenya, Bu?”
Wanita paruh baya itu tak menjawab. Membuat pemuda itu semakin geram.

Ia mendekati Mirah yang masih tertidur pulas. Wajahnya begitu pucat. Ia goncang-goncangkan tubuh Mirah.
“Bangun, Mirah, bangun!” bentaknya. Mirah masih tertidur pulas.
“Mari kita pindah kamar. Akan kucarikan kamar yang lebih hangat untukmu. Aku tak tega melihatmu kedinginan seperti ini!”
“Bangun, Mirah!” ia menggoncang-goncangkan tubuh wanita itu lagi. Namun Mirah belum juga membuka matanya. Pemuda itu mulai putus asa. Ketika ia merebahkan kepalanya di samping Mirah, pemuda itu melihat sebuah botol aneh di samping bantal Mirah. Ia meraih gelas itu, cepat ia sadari botol itu adalah botol racun.
“Mirah!!!” teriaknya.
“Mengapa kau tega meninggalkanku? Bukankah kita sudah berjanji akan naik pelaminan?” pemuda itu berpikir tentang ibunya yang menjaga Mirah. Ia menoleh ke arah pintu, ibunya sedang tidur di atas kursi goyang.
“Ibu! Apa yang telah terjadi pada Mirah?” Apa yang telah kau lakukan padanya?” pemuda itu mendekati ibunya yang sejak awal tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia terdiam sejenak. Jatuh beberapa tetesan air mata di pipinya.
“Mengapa, Bu?” ia meraih botol yang sama seperti yang ia temukan di samping mayat calon istrinya.

Cerpen Karangan: Triyana Aidayanthi
Facebook: Triyana Aidayanthi

Seorang penulis pemula nan amatiran yang jatuh cinta dengan dunia menulis karena suka menggambar ;) hehehe…
Salam kenal ya..
Boleh dong kritik, saran, & share pengalamannya ;)
Facebook : Triyana Aidayanthi
Twitter : @_triyanaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: