Sinar

           Pada postingan berikutnya berjudul Sinar.Pastinnya adek2 sangatlah menyayangi kedua orang tua yang telah mendidik ,menjaga dan merawat adek.Untuk itu janganlah sekali2 adek mennyakiti hati atau perasaan orang tua.Seperti kisah cerpen ini.Yaitu kisah seorang anak  kecil yang begitu hebat mengurus ibunnya.Untuk lebih jelasnya langsung saja ke TKP!!!!

              Rintik-rintik hujan masih terus membasahi bumi. Becek, itulah yang terjadi saat ini. Tapi walau begitu tak menghalangi Sinar bocah cilik yang masih duduk di bangku kelas 4 SD ini untuk mencari kayu bakar.

Sinar adalah gadis cilik yang sangat hebat. Mengapa demikian? Karena dia mampu mengurus ibunya yang lumpuh dengan jerih payahnya sendiri. Sinar dan ibunya tinggal di sebuah gubuk yang terbuat dari kayu, walau begitu hampir semua atapnya sudah bocor.

Suatu ketika Sinar sedang memberi makan ibunya, “Bu, maaf ya Sinar hanya bisa memberi ibu makan pake nasi aja” kata Sinar kepada ibunya.
“enggak pa-pa nak. Seharusnya ini tugas ibu. Tapi. kamu yang menggantikan” kata ibu kepada Sinar.
“bu, andaikan aku lilin, aku akan menerangi segala kegelapan yang ada di hati ibu” kata Sinar.
Ibupun meneteskan air matanya. “ibu kenapa menangis?” tanya Sinar
“ibu enggak mau kehilangan kamu Sinar. Kamu adalah Sinar di hati Ibu. Ibu sudah banyak membebanimu. Seharusnya ini semua tugas ibu, bukan tugasmu” kata ibu yang terus meneteskan air mata
“bu, ibu sudah melahirkan Sinar ke dunia. Taruhannya nyawa ibu, jadi Sinar akan selalu menjaga ibu. Apapun itu yang terjadi” jawab Sinar yang menahan tetesan air matanya Setelah selesai memberi makan ibunya, Sinarpun keluar rumah untuk memasak air dengan kayu bakar. Dia harus meniup panasnya api, agar api itu menyala.

Keesokan harinya saat Sinar pulang sekolah, Sinar bertemu dengan seorang bapak-bapak. “permisi. Apa kamu Sinar?” tanya bapak itu
“iya pak. Ada apa?” tanya Sinar
“sungguh gadis cilik yang hebat!” kata bapak itu
“maksud bapak apa?” tanya Sinar bingung
“berita tentang keadaan mu sudah sampai kemana mana. Kau memang anak yang hebat!” puji bapak itu.
Sinar hanya membalas dengan senyuman. “bukankan ibu sudah melahirkan kita sampai taruhan nyawa? Jadi kita harus menjaganya sampai taruhan nyawa juga. Ibu itu satu satunya harta saya di dunia. Saya tidak mau kehilangan dia” kata Sinar.
Ditengah perjalanan merekapun berpisah. Karena bapak itu ada urusan dengan seseorang di desa itu.

Sesampai di rumah, ibu Sinar sudah menyebut nyebut namanya. “Sinar… Sinar…” panggil ibunya.
Sinar yang mendengar langsung menghampiri. “ada apa bu?” tanya Sinar yang khawatir
“ibu tidak kuat lagi nak. Mungkin ibu akan pergi. Tubuh ibu tidak bisa di gerakan lagi” tangis ibu kepada Sinar
“maksud ibu apa? Ibu jangan ngomong seperti itu, Sinar sayang ibu. Ibu harta Sinar satu satunya. Kalau ibu pergi siapa teman Sinar? Siapa bu? Nanti Sinar enggak punya siap siapa lagi” tangis Sinar
“Sinar, percayalah kamu akan selalu bersinar di hati ibu. Sampai kapan pun” kata ibu
“tapi bu..” kata Sinar.

Detik terus berjalan. Hingga ibunya Sinarpun pergi. “bu… Bu… Sinar enggak pernah merasa capek atau lelah menjaga ibu. Melihat ibu ada di samping Sinar saja, Sinar sudah bahagia. Jangan tinggin Sinar bu” tangisan Sinar tak henti hentinya. Sinarpun keluar rumah untuk meminta pertolongan. Tapi tak satupun orang yang datang.

Karena rumahnya ada di hutan. “toollloooong… Toolllooonnggg..” teriak Sinar dengan tangisannya.
Tak lama Pak Jaya pun datang, dari desa sebrang. “ada apa nak?” tanya Pak Jaya
“pak, tolong saya. Ibu saya meninggal, saya tidak tau harus berbuat apa?” kata Sinar menjelaskan, tapi tetesan air mata masih keluar.
“baik nak, saya akan panggil sebagian warga di desa sebrang. Kamu tunggu sini” kata Pak Jaya. Sejenak Pak Jaya pergi. Dan datang membawa warga desa sebrang yang cukup banyak.

Akhirnya merekapun menguburkan ibunya Sinar di desa sebrang. Tiba tiba saat Sinar sedang menangisi makan ibunya, bapak yang kemarin itu datang. “saya tau betapa sedihnya di tinggal orang yang kita sayang” kata bapak itu
“bapak ini sebenarnya siapa?” tanya Sinar bingung
“kenalkan, saya bapak James” kata bapak itu
“pak, sekarang aku sudah tidak punya siapa siapa. Jadi untuk apa aku hidup?” kata Sinar dengan tangisannya
“kamu enggak boleh ngomong gitu. Saya berniat untuk mengangkatmu jadi anak saya. Niat saya baik” kata Pak James
“tapi bagaimana dengan ibu ku? Aku tidak akan meninggalkan makam ini” kata Sinar
“Sinar. Kau akan tinggal bersama dengan saya. Setiap bulan sekali kau akan ku antar ke sini untuk ziarah kemakam ibumu” jelas Pak James.

Keesokan harinya Sinarpun mulai berangkat ke kota untuk menggapai segala keinginan almarhum ibunya. Selama di kota diapun menjadi bersinar. Seperti namanya SINAR.

Cerpen Karangan: Natalia Melati
Blog: NataliaMelati.blogspot.com
Facebook: https://www.facebook.com/natalia.pangaribuan1?
Namaku Natalia Melati. aku kelas 7 di SMPN 259 JAKARTA. Follow twitter aku ya sobat @Natalia_Pangrib. GBU. Semoga kalian suka sama semua hasil cerpenku:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: