Cinta Segitiga

Pada postingan berikutnya berjudul Cinta Segitiga.Kisah cerpen ini menceritakan seorang teman berdiam – diam juga jatuh cinta pada kekasih temannya.Untuk lebih jelasnnya langsung saja ke TKP!!!

Sesungguhnya aku tak bisa mendustai hatiku, cintaku padamu begitu dalam dan aku tersiksa untuk kesekian waktu. Tubuhku di sini bersama bayangmu dan hati pikiranku di sana membayangi rinduku padamu adam, adakah kesempatan untuk kita memulai dari awal, sungguh aku terluka, aku lemah, apa kamu sadari, ternyata aku tak mampu tanpamu.. di sini sepi merasuk melewati darahku dan menusuk jantungku, di malam-malamku aku merenung tentang kamu. selalu seperti ini

Aku menulis dan memasukan surat itu di halaman tengah buku adam yang baru ku pinjam dan menyerahkan kembali pada adam yang tak curiga.

Malam ini aku baerharap ada telepon dari adam yang masuk, jam di tanganku terus berputar dan yang telepon tenyata rangga kekasihku, kami bicara panjang lebar, dan tersenyum tanpa alasan jelas, aku terpaksa atau tak tulus, karna aku masih berharap pada adam yang telah 2 tahun menemaniku, mengisi hari-hariku, memperkenalkan aku pada arti cinta. di samping adam aku merasa aman, selalu setiap saat.

Hubunganku dengan adam putus tak menentu dengan alasan kami akan menghadapi UN (ujian negara) yang akan berlangsung beberapa bulan lagi, walau ku tahu sebenarnya masalah di antara kami lah yang lebih berbicara. Setelah kami putus beberapa minggu rangga datang dengan seribu makna, aku yang tak bisa melupakan adam mencoba menghadirkan rangga, lagi pula aku tahu rangga tulus, tapi tetap ku sadari aku yang tak bisa berdusta tentang rasa sayangku pada adam, dan itu yang membuatku tak tulus mencitai rangga sepenuhnya, aku berharap rangga bisa mengerti keadaan ini, tidak mudah melupakan seseorang walau dengan berbagai kesibukanku.. dan aku cukup tersiksa.

Aku melangkah ke dapur dan mengambil air dingin untuk menenangkan pikiranku, aku kembali dan hp ku tertera 3 telepon tak trjawab, Hp berbunyi kembali sebuah suara tak asing ku dengar.

“nadia kenapa kamu menyakiti hatiku, kamu kan tahu rangga itu temanku, dan lagi kalian bermesraan di depanku, di mana logikannya nadia, jangan hubungi aku lagi, pokoknya aku akan berusaha menjauh dari hidupmu kalau aku ternyata cuma jadi penghalang kebahagianmu, aku punya hati nadia, sakiti aja terus, sampai aku mati!” suara adam bicara sebelum ku berkata dan mematikan begitu saja.

Aku terkulai lemah, merebahkan tubuhku di kasur, rasanya semua masalah ini membuatku tak bersemangat. Di sekolah rangga tiba-tiba jadi aneh, aku berkata dan mengangunya tak ada reaksi, membuatku serba salah, ia tertunduk lemah di kursi dan kadang tatapannya kosong entah apa yang dia rasakan, sedangkan adam hari ini tidak masuk, entah kemana perginya, aku benar-benar dilema memikirkan keadaan ini.

Aku menghampiri rangga. di atas mejanya buku adam dan ia membaca surat yang harusnya hanya adam yang tahu, aku tertunduk merebahkan diri di sampingnya yang masih terdiam tanpa suara dengan kertas lusuh yang mungkin sengaja dia kucek.
“rangga kenapa buku adam sama kamu?” jawabku menahan dadaku yang bergetar hebat, bibirku kelu
Untuk beberap saat hening dan tak ada jawaban, rangga bangkit berdiri menggebrak meja dan berlalu keluar, membuatku kaget, aku memungut buku yang jatuh dan mengambil kertas memasukan ke saku baju, aku keluar mencari adam, ternyata ia termenung di bawah pohon dekat taman.. termenung sendiri tanpa kata, aku menghampiri dan duduk di sebelahnya.
“kenapa kamu masih disini?” jawab rangga membuatku semakin terluka menahan pedih
“aku mau disini menemanimu walau sebentar saja, terserah kamu mau benci padaku.. ta.. tapi” aku menghentikan kata-kataku
“tapi apa, tapi kamu belum puas membohongiku dan menyakiti hatiku lagi, pergi” jawab rangga datar
“tapi rangga” aku menatap matanya yang berair.
“tapi kamu kan tahu adam masa lalu aku dan kamu masa depanku, aku tuh butuh waktu untuk melupakan adam, kamu kan tahu” aku menunduk menahan air mataku yang tak bisa ku tahan lagi
“semalam aku pergi ke rumah adam dan meminjam bukunya.. ternyata sesuatu yang membuatku tak bersemangat pagi ini, apa kau tahu bagaimana rasanya di cintai tanpa rasa, sakit nad. sakit sekali, lebih baik kamu menamparku dan itu akan hilang, tapi hatikku tak bisa di obati, sekarang kamu pilih aku atau dia?” rangga menatapku tajam sekali
Aku tertunduk untuk beberapa saat dan aku memeluk tubuh rangga
“Aku mencintaimu rangga, biarkan aku mencoba, kamu adalah bahagiaku” rangga membalas pelukankau
Dari jauh di balik pagar sekolah, aku melihat adam dengan motor, menghapus air mata dan berlalu di tengah keramaian.

Cerpen Karangan: Alfred Pandie
Facebook: alfredpandie[-at-]yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: