Setetes Harapan

       Pada postingan berikutnya berjudul Setetes Harapan.Cerpen ini mengisahkan seseorang yang ingin menuaikan rasa cintannya kepada orang lain.Untuk lebih jelasnya langsung saja ke TKP!!!

             Cinta… ya kata yang sering di sebut-sebut semua manusia di dunia ini. Namun banyak orang tak bisa memberi arti apakah itu cinta yang sesungguhnya. Hari demi hari ku jejaki, namun tak sedikitpun kutemukan titik terang kemana diriku akan pergi. Tak pernah ku berfikir sebelumnya kalau aku akan duduk di sini, di kamar kost no.3 Jawa 7 no.8 di sebelah pagar tinggi kampusku.

Dua tahun yang lalu aku masih mengenakan seragam putih abu-abu, aku merasa tak akan ada yang bisa menghalangiku mencapai angkasa menatap dunia dari atas, dan terbang bersama sang bidadari mengikuti arah pelangi. Namun yang ku dapat bukan yang ku tulis dalam lembar-lembar ceritaku, dan itu sebaliknya. Aku masih harus berjalan lebih panjang lagi, masih harus menulis kisah-kisah lagi, kisah suka-duka belajar dan kisah-kisah cinta yang serasa aku tak ingin mengulanginya.

Disinilah hidupku berjalan. Saat detak jantung berirama dengan khayalan, berputar dengan roda-roda jiwa yang tak ingin di kekang, aku pun menarik nafas dalam-dalam. “Ya Allah kuatkan aku”.
Dan inilah kisah cinta yang tiada habisnya. Sejakak ku mengenal Isma aku tak bisa melupakannya sampai saat ini, entah apa alasannya. Walaupun dia telah menyakitiku, membuatku tak ingin mencintainya lagi, dan melupakanaku, aku akan tetap selalu menyimpanya dalam hatiku. Dan ketika aku harus bersandiwara, maka aku kan lakukan itu.

“maaf Ali, aku pacarmu tapi tak bisa mencintaimu seperti pacarmu, namun aku tak akan membuatmu sakit, biarlah semua ini aku yang rasakan Ali, kau tak perlu khawatir, kau tak akan kecewa jika kau tak tau, maka tetaplah tak tau”.

Aku berharap suatu saat nanti Allah akan menghapus rasa cintaku pada Isma, atau memberikan Isma untukku. Dan aku yakin kalau aku sangat mencintainya. Walau tak ada alasan tuk berharap kembali padanya. Aku akan melangkah, walau kurasa letih. Aku akan terus mengiringi nafasnya, hingga aku tak mampu tuk melakukannya lagi. Aku kan selalu mengingatnya, hingga sampai Allah tak mengizinkannya.

Cukuplah untuk mencintainya di sini. Aku tau dia tidak. Namun aku yakin, aku yakin Allah akan memberi yang terbaik. Cinta akan datang pada waktunya. Aku hanya bisa menunggu waktu itu berputar. Dan yang memiliki waktu tentunya sudah tau kapan datangnya. Karena itu aku akan menunggu…

Cerpen Karangan: Tiwi J. P.
Facebook: thychothevylietax64[-at-]facebook.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: