Kisah Kertas, Peraut dan Pena

            Pada postingan berikutnya berjudul Kisah Kertas, Peraut dan Pena.Cerpen ini mengisahkan kehidupan peralatan tulis milik seorang yang bernama andi.Untuk lebih jelasnya langsung saja ke TKP!!!

          Di dunia alat tulis, hiduplah Kertas, Peraut, dan Pena. Mereka sudah bersahabat sejak dulu. Suatu hari, mereka berjalan-jalan mengitari meja tulis si pemilik mereka yang bernama Andi. Tiba-tiba, Andi mengambil Kertas dan Pena. Ia mencoret-coret Kertas dengan Pena.
“Andi, ayo keluar kamar. Kita akan makan malam” teriak ibu Andi.
“Iya, Bu” jawab Andi sambil berjalan keluar kamar.
“Ha ha ha… Kamu penuh coretan, Kertas. Lihatlah aku. Aku berwarna hitam dan tidak bisa di coret” ejek Peraut kepada Kertas.
“Hei, Peraut. Kamu hanya pandai menertawakan orang lain. Dasar orang jahat!” hardik Pena.
“Pena, kita bukan orang. Kita alat tulis” jawab Peraut.
“Terserah kau lah” marah Pena.
“Sudah, sudah. Ayo kita beristirahat” lerai Kertas yang sudah kotor karena di coret-coret. Mereka bertiga duduk beristirahat.

Cuaca pada saat itu sangat panas. Peraut kepanasan. Wajahnya penuh dengan cucuran keringat. Sedangkan Pena dan Kertas tidak merasakan panas karena tidak berongga.
“Hai, Pena. Maukah kau menolongku?” kata Peraut kepada Pena.
“Aku bersedia menolongmu. Apa kesulitanmu?” tanya Pena kepada Peraut.
“Tolong, hidupkan kipas angin itu. Aku kepanasan” jawab Peraut. Segera, Pena berjalan ke kipas angin dan memijak tombol ON. Kipas angin itu menerbangkan kertas yang tipis. Melihat kejadian itu, Pena langsung mematikan kipas angin itu.
“Ha ha ha…. Kau berterbangan seperti kapas. Ayo, Pena. Hidupkan lagi kipas anginnya!” ucap Peraut dengan nada mengejek.
“Hei, Peraut. Kau terlalu kejam. Kau tidak pantas menjadi sahabat kami. Sekarang, kau tidak menjadi sahabat kami lagi!” marah Pena.
“Ya, sudah. Aku tidak keberatan” santai Peraut sambil meninggalkan Pena dan Kertas.

Di lain waktu, ketika Kertas dan Pena berjalan-jalan, tiba-tiba Andi, si pemilik mereka, mengambil Pena lalu mencoret-coret buku. Setelah selesai mencoret-coret buku, Andi langsung keluar kamar.

“Astaga, tintaku sudah habis!” keluh Pena. Peraut yang melihat kejadian itu, langsung mendekati Pena dan mengejeknya.
“Ha ha ha… Kamu kehabisan tintanya. Kamu akan di buang Andi. Ha ha ha…” ejek Peraut kepada Pena.
“Hei, Peraut. Mengapa kamu di sini?. Kau tidak menjadi sahabat kami” bentak Kertas kepada Peraut.
“Ya sudah. Aku pergi saja ah” kata Peraut sambil meninggalkan Kertas dan Pena. Peraut berjalan ke rumahnya, yaitu kotak pensil Andi. Di dalam perjalanan, tiba-tiba Andi datang dan merampas Peraut. Andi meraut pensilnya dengan Peraut. Ia meraut pensilnya sangat lama, hingga akhirnya Peraut menjadi sangat kotor gara-gara sampah pensil Andi. Karena kotornya, Andi meniup Peraut.
“Jangan, Andi!. Nanti aku tidak tajam lagi seperi dulu” teriak Peraut. Tapi, ia terlambat!. Andi sudah meniupnya berulang-ulang kali. Selesai meniup Peraut, Andi kembali meraut pensil yang lainnya kepada Peraut. Namun, Peraut tidak tajam lagi seperti dulu. Karena itu, Andi membuang Peraut dan menggantinya dengan yang lain.

Cerpen Karangan: Thalita Vioni Zahra
Facebook: Vioni Zahra

Nama: Thalita Vioni Zahra
TTL: Padang, 15 Mei 2002
Kelas: VB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: