Yang Lalu Tetap Berlalu

                Pada postingan berikutnya berjudul Yang Lalu Tetap Berlalu.Cerpen ini mengisahkan tentang seorang cewek yang masih menaruh hatinnya kepada mantan kekasihnya dulu.Untuk lebih jelasnnya langsung saja ke TKP!!!

               Siang yang bersahabat, matahari adem ayem di cakrwala. Ku langkahkan kaki ke luar kelas. “Ana” itulah panggilanku, Lifi mendekatiku. Aku dan Lifi mampir sebentar di toko depan sekolah. Sewaktu balik tiba-tiba ada orang asing di depan sekolah, dengan seragam serba abu-abu. Oalah, kenapa harus ada dia?
“Loh, Na, itu si Gio”, kata Lifi heboh, aku mengangguk saja bermaksud membenarkan Lifi. Aku berharap dia pergi sebelum aku sampai di gerbang. Dan syukurlah, dia paham, dia langsung pergi.

Sejujurnya hatiku dag dig dug, aku kangen banget sama dia. Aku cuma bisa mengenang masa lalu kita di hati saja. Dia yang dulu tersipu malu dengan kehadiranku sekarang malah menghidariku. Aku sedih melihatnya terlebih saat aku tahu dia ke sini bukan buat aku, dia ke sini gak lain buat si Rika.
Rika sebetulnya temanku waktu di LBB dan kita sempat akrab, sayangnya statusnya kali ini membuatku selalu buang muka tiap ada dia, aku gak suka dia, kita serasa orang yang gak pernah kenal.

Rupanya aku sudah melamun terlalu lama, tenyata sudah sampai di depan kamar. Belum sempat aku rebahkan tubuhku sejenak melepas lelah dan galaunya hati. Teman-teman mengejutkanku “ada kecelakaan…!” teriak teman-teman. Mendengar ucapan itu aku bergegas keluar membiarkan tas dan kunci kamar tergeletak, entah kenapa aku langsung kepikiran Gio. Dalam hati aku berharap bukan Gio.

Aku memaksa menerobos gerombolan orang-orang melihat korban. Korban itu beneran Gio aku tak berteriak aku hanya menangis dan memanggil teman satu wismaku untuk membawa Gio ke rumah sakit. Ku rangkul Gio, aku berharap abang becak ini bersemangat mengayuh becaknya. Sesekali aku mengeluh entah kenapa aku tak mampu menatap wajah Gio yang berlumur darah, aku hanya menangis.

Sesampainya di rumah sakit Rika sudah siap dengan dokter. Rika bersama keluarga Gio menunggu di depan pintu, kecuali aku dan teman sewismaku yang bermaksud meninggalkan tempat itu. Dengan langkah berat aku menjauh dari tempat itu sembari memandang darah di telapak tanganku, sesekali aku genggam erat dan aku sentuhkan di dadaku.
“Ana, tunggu!” Rika mencegah kepergianku aku hanya menoleh. Rika menggandengku dan membawaku berlari menuju ruang rawat Gio. Aku tertegun saat aku tahu dia mengenakan baju pemberianku sekalipun baju itu sudah lusuh bekas kecelakaan tadi. Aku menghampirinya tapi dia memalingkan mukanya. Aku kecewa, dia tak menganggap kehadiranku. Tak sepatah katapun ku ucapkan, tapi saat aku berbalik badan Gio memegang tanganku, aku menghentikan langkahku. Hatiku berdebar-saat aku bersamanya dulu.

Sudah terlalu lama, akupun berbalik badan tapi dia memalingkan mukanya. Aku hanya diam, ku tanya hati mengapa dia tak mengizinkanku pergi, tapi dia tak menatapku. Tanpa aku sadari air mataku menetes jatuh di tangannya yang masih menggenggam tanganku.
Aku ingat jam tangan yang aku pakai ini adalah pemberian Gio, aku lepaskan tangan Gio di tanganku, lalu aku lepaskan jam tangan itu. Lalu aku lemparkan ke arah Gio dan berlari keluar ruangan angker itu.

Sesampainya di wisma aku kumpulkan semua barang pemberian Gio dan semua hal tentang Gio lalu aku bungkus kardus dan aku paketkan kerumah Gio.
Esoknya aku mendapatkan sebuah kado di depan kamar wisma, masih sepi karena hari baru pukul 05.30. Aku bawa kotak tersebut ke kamar dan aku buka, black forest dengan lilin menyala merangkai namaku dalam huruf arab. Tidak hanya itu, kotak yang aku paketkan ke Gio kemarin balik lagi.

Saat di skolah teman-teman masih sempat-sempatnya ngadain rapat sepulang sekolah walau berat aku mengiyakan saja. Saat rapat berlangsung tiba-tiba segerombolan orang asing membawa kue tar menuju tempatku, aku baru sadar bahwa hari ini ultahku. Tapi siapa mereka, aku tak mengenalinya kemudian seseorang mendekatiku aku selalu berangan-angan itu Gio, dan memang benar dia Gio.
Setelah serentetan peristiwa itu terjadi rasa hati ini mulai bangkit lagi untuk Gio. Sayangnya, Gio masih berhubungan dengan Rika, mereka masih pacaran. Di minggu pagi yang mendung itu dia mendatangi wismaku dan memberiku sepucuk curat lalu pergi aku buka surat itu perlahan dengan perasaan linglung
Semoga kamu jadi orang sukses berbahagialah dengan orang-orang di sekitarmu karena banyak yang menginginkanmu bahagia, akupun juga, Lupakan aku! Kembalilah kubur namaku sekalipun kamu akan selalu terkenang di hatiku sebagai seorang yang berarti untukku.
GIO

Aku hanya diam, serasa semuanya hilang. Arassa tak cekka’ manjeng. 1
1 tak mampu berdiri tegak.

SELESAI

Cerpen Karangan: Fani Desy Lestary
Facebook: Fani Desy Lestary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: