Aku Ingin Mati

   Pada postingan berikutnnya berjudul Aku Ingin Mati.Cerpen ini mengisahkan seorang anak yang diperlakukan tidak adil oleh tantennya sendiri.Untuk lebih jelasnnya langsung saja ke TKP!!!

       Rintik-rintik hujan mulai menjatuhkan dirinya ke bumi. Cuaca sekitar terlihat mendung. Mataharipun mulai menyembunyikan dirinya, hanya seberkas sinar yang tersembur di langit yang mulai menggelap. Rintik-rintik hujan itupun berubah menjadi hujan yang lebat, diiringi angin yang kencang. Seketika itu, dahan-dahan di pepohonan mulai roboh oleh tiupan angin yang singgah dengan ganasnya. Begitulah hidupku, yang tak lama lagi aku akan seperti dahan itu, yang dengan perlahan akan roboh sebelum akhirnya jatuh ke bumi.

Aku menderita Anemia yang sudah akut. Dokter menvonis umurku tidak lama lagi. Cuma tinggal beberapa bulan saja aku akan pergi jauh. Tapi aku tidak percaya sepenuhnya pada vonis dokter, semua kuserahkan pada sang pencipta. Walaupun begitu, jika vonis dokter itupun benar aku tidak peduli, biarlah aku pergi meninggalkan dunia yang fana ini daripada aku harus menahan penderitaan, kesedihan, duka dan lara yang datang silih berganti.

Hidupku merasa terombang ambing bak kapal di tengah lautan. Jika badai besar datang melanda, kapal akan tenggelam ke dasar lautan apabila tidak kuat menahan badai tersebut. Aku saat ini berada pada posisi kapal yang sebentar lagi tenggelam, karena tidak mampu menahan badai cobaan. Hampir setiap aku mengalami kesedihan yang terus berlarut tanpa aku menemukan titik terakhirnya. Akupun mulai menerawang, pikiranku melayang. Hanya dengan penyakitku dan kematianlah yang akan mengakhiri segala penderitaanku. Ya… KEMATIAN! tak lama lagi aku akan bertemu dengan kematian, meskipun aku tidak tahu persis kapan aku akan mati. Tapi, penyakit yang kuderita ini telah menandakan bahwa aku akan semakin dekat dengan kematian yang kuinginkan

Setiap hari aku selalu diperlakukan seperti seorang pembantu oleh Tante dan sepupuku, Syira. Mereka menganggap aku seperti orang yang tidak berguna, menyusahkan mereka. Semenjak kedua orang tuaku meninggal, mereka semakin berkuasa di rumah kami. Tante dan Syira mengambil harta peninggalan Ayahku, tanpa memberikan sepersenpun padaku. Aku hanya bisa bersabar mencoba bersabar, dan merelakan semuanya. Akupun tidak butuh harta itu. Pikirku

“Syifa… Syifa!” Teriak sebuah suara, yang jelas sekali itu suara Tanteku.

Akupun tersentak dari lamunanku, yamg tanpa kusadari hujan lebat telah berhenti dan langit kembali cerah. Sempat ku lirik jam dinding di kamarku, yang menunjukan pukul 16.00 WIB. Astagfirullah aku belum sholat Ashar, aku segera menuju kamar mandi untuk berwudhu, tapi tanteku kembali memanggil. Kini dengan suara yang lantang dan memenuhi seluruh sudut telingaku.

“Syifa… Syifa!” Teriaknya.
“Iya… Tante!” Jawabku dari dalam

Dengan perlahan aku membuka pintu kamarku dan segera berlari menuju ruang tamu. Di sana, ternyata Tanteku sudah menunggu dengan wajahnya yang menggeram tanda marah padaku. Tak terkecuali Syira, yang sudah berada di samping ibunya sambil bertolak pinggang melihatku. Wajah mereka seperti hendak menerkamku

“Ada Apa Tante?, Tante panggil Syifa?” tanyaku dengan suara yang lemah.
“Iya, siapa lagi, cuma kamu yang namanya Syifa kan? dasar Tolol!” teriak Tante Eva, sambil meletakkan telunjuknya di jidatku dan membuatku terdorong ke belakang. Aku hanya bisa diam diperlakukan seperti itu, tak ada yang bisa kuperbuat.
“Ada.. Apa Tante?” Tanyaku lagi
“Ada apa… ada apa? kamu tidak melihat jemuran basah semua, kamu sengaja tidak mengangkatnya, ya!” Teriak Tante Eva dengan mata melotot melihatku, seperti hendak keluar kedua bola matanya membentakku.
“Oh… Maaf Tante, saya lupa!” Jawabku jujur, karena aku benar-benar lupa mengangkat jemuran.
“Apa… Lupa? lupa kamu bilang, dari tadi kamu ngapain aja eh…?” sahut Syira ikut-lkutan
“Tapi Syira, aku benar-benar lupa, kamu kan bisa mengangkat jemuran itu.” Jawabku
“Sudah… sudah, sekarang cepat kamu angkat jemuran basah itu!” suruh Tanteku lagi.

Apa boleh buat, aku terpaksa keluar untuk mengambil jemuran. Seketika itu, air hangat mengalir di pelupuk mataku. Aku tidak tahan terus-terusan di perlakukan seperti ini. Tiba-Tiba rasa sakit semakin menusuk otakku, dan aku merasakan pusing yang menyakitkan. Sembari ku ambil satu persatu kain yang menggantung di tali, seketika itu, pasanganku kabur, ku lihat bayangan Tante Eva dan Syira semakin banyak. Aku tidak kuat lagi menahan rasa sakit di kepalaku ini, hingga akhirnya aku jatuh ke bumi dan tak sadarkan diri!

SELESAI

Cerpen Karangan: Nurlaila
Facebook: Nurlaila Ella

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: