Hanya Dengan Senyuman

     Pada postingan berikutnya berjudul Hanya Dengan Senyuman.Cerpen ini mengisahkan seorang anak cewek yang masih terpendam kesedihan dalam hatinya.Untuk lebih jelasnnya langsung saja ke TKP!!!

      Pagi yang cerah, gadis imut itu membuka pintu rumahnya. Dilihatnya, sekeliling rumah yang tampak asri, seulas senyum tak pernah hilang dari wajah mungilnya.
“Namanya April.” kata seorang ibu memberitahu.
“Namanya bagus ya, anaknya juga cantik.”

Tak heran, gadis imut yang bernama April itu sering diperbincangkan oleh tetangga sekitar. Karena perilakunya yang sopan, tutur katanya yang lembut, membuat orang selalu ingin berada di dekatnya. Tapi, ada saja orang yang iri dan benci kepada April. Ya salah satunya Puput, teman sekelas gadis imut itu.

Pernah suatu kali, April terjatuh ketika mengikuti lomba lari di pelajaran olahraga. Silvi dan teman-temannya menghampiri April dan membantunya untuk berdiri. Lain dengan Puput, ia malah menertawakan April yang berjalan tertatih-tatih dengan di bantu teman-temannya. Lantas, apa yang di lakukan gadis imut itu? Apakah ia marah? Tidak! Gadis imut itu malah memberikan senyuman termanisnya kepada Puput. Kontan, Puput yang sedang menertawainya terdiam setelah melihat senyuman manis April. Ia mendelik kesal, dan langsung meninggalkan April beserta teman-temannya.

Setiap hari, Puput selalu saja mengejek dan mencaci maki April. Tapi, reaksi gadis imut itu terhadap perilaku Puput hanya senyum, senyum, dan senyum. Tak pernah sekalipun ia membalas perilaku Puput

Bel istirahat berbunyi, Silvi mengajak April pergi ke kantin. Di tengah perjalanan, terjadi perbincangan antara mereka.
“April, kamu ngga sakit hati?” tanya Silvi.
“Sakit hati kenapa?” jawab April
“Ya kamu tahu sendirilah, perilaku Puput sama kamu.”
“Oh, itu. Emm, aku ngga sakit hati. Masalahku sama Puput itu aku biarkan seperti air yang mengalir saja.”
Silvi pun tersenyum, seraya berkata “Tahu ga April, kamu itu teman aku yang paaaliinggg beda.”
“Paling beda? Maksudmu?”
“Iya, kamu itu teman aku yang paling sabar, paling baik, pokoknya semua yang bagus-bagus ada di diri kamu.”
“Silvi… Silvi.. Kamu terlalu berlebihan.”
Mereka tertawa bersama. Tapi, ada yang mengganjal di hati di hati April. Apakah dia sebaik yang di katakan Silvi? batin gadis imut itu.

Esok paginya, April datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Ia menemukan Puput sedang menangis tersedu-sedu di kelasnya.
“Puput” panggil April.
Puput menoleh. Tapi, ia tidak memedulikan April. Puput melanjutkan tangisannya.
“Kamu kenapa Put?” tanya April
“Kakekku.”
“Kakekmu kenapa?”
“Me…ninggal.”
Kata “Meninggal” sudah tidak asing terdengar di telinga gadis imut itu.
“Kamu yang sabar ya…” hanya kata itu yang dapat di katakan April. Puput menoleh, matanya menatap tajam April.
“Apa Pril! Kamu seenaknya saja bilang sabar ke aku. Kamu ga tahu kan rasanya kehilangan seseorang yang di sayang?” jerit Puput.
“Kamu lebih beruntung, Put. Aku kehilangan seluruh keluargaku.” kata April.
“Bohong kamu. Terus siapa yang mengurus kamu selama ini di rumah mewah itu? Pembantu?”
“Itu, orang tua angkatku.”
Puput tersentak kaget. April menceritakan seluruh kisah hidupnya kepada Puput. Kisah di saat gadis imut itu di tinggal oleh kedua orang tua untuk selama-lamanya dan satu persatu keluarganya pun meninggalkannya. Tangisan Puput semakin menjadi-jadi.
“Ma…af.” kata Puput di sela tangisnya.
April membawa Puput ke dalam pelukannya. Mereka menangis bersama-sama, dalam ikatan persahabatan.

Cerpen Karangan: Annida Hasan
Blog: annidahasan.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: