Cinta Lama Bersemi Kembali

cinta lama bersemi kembali       Jam sudah menunjukan pukul 07:56 tapi masih belum ada tanda-tanda kedatangan ibu Susi guru geografi yang sekaligus wali kelas kami, dan semua siswa memang berharap agar beliau tidak datang. Jujur aku katakan belajar dengan beliau memang sangat membosankan, jadi tidak heran jika tidak ada seoarang siswa pun yang senang dengan beliau. Untuk mengisi waktu senggang, para siswa melakukan berbagai aktifitas. Ada yang mendengarkan musik, mengobrol, membaca buku, asik mengotak-atik laptop, serta ada juga yang tersenyum-senyum sendiri sambil menatap layar handphonenya. Beberapa saat kemudian terdengar suara sepatu yang berjalan menuju kelas kami dan ternyata suara itu berasal dari kepala sekolah yang memasuki kelas kami. Semua aktifitas-aktifitas tersebut berhenti total. Semua mata berpacu pada seorang siswa tampan yang menguntit beliau di belakang. “Dika?” guman ku dalam hati. “assalamu’alaikum wr wb”. Sapa Bapak kepala sekolah. “wa’alaikum salam wr wb”. Jawab siswa dengan serentak dan dengan nada yang khas dan ritme yang sama pula. “hari ini Bu Susi tidak bisa hadir karena sedang keluar kota, dan kita kedatangan murid baru”. Bapak kepala sekolah memulai kembali pembicaraannya. “silahkan perkenalkan diri kamu!”. “perkenalkan nama saya Dika raditya pratama, saya pindahan dari Jakarta. Senang bertemu kalian semua.” Ucapnya yang diakhiri dengan senyum manis yang membuat para siswi histeris. “Dika, kamu bisa duduk di sebelah Farhan. ok Semuanya saya harap tidak ada yang keluar dan ribut di kelas, saya harus pergi sekarang karena sedang ada urusan penting. Ingat, jangan ribut!, permisi”. Dan beliau pun berlalu. Setelah Dika meletakan tasnya di atas meja dia langsung menghampiriku dan duduk di sebelah ku. “tory.. selamat bertemu kembali.” Sapanya sambil melontarkan senyuman manisnya itu. “kok kamu bisa ada disini? Tinggal sama siapa?” Tanya ku. Tanpa sempat dia menjawab tiba-tiba datang cindy dengan ketiga temannya yang sudah seperti bodyguard yang setia mengikuti kemana pun dia pergi. “hay Dika, kenalin gua cindy cewek tercantik dan terkaya di sekolah ini dan ini tasya, mitha dan ini cika.” Sapa cindy dengan gayanya yang sok cantik dan centil yang paling gua benci. “hay dika” seru mereka bertiga secara serentak. “hay juga senang berkenalan dengan kalian”. Timbal Dika. “boleh ngobrol-ngobrol dikit gak?” tanya cindy setengah memohon. “mmmm, gimana ya? Ntar aja ya, aku lagi pengen ngobrol sama Tory, maaf ya.” “ya udah deh”. Dengan rawut wajah cemberut cindy langsung kembali ke tempat duduknya dan melihat sinis ke arah ku yang melanjutkan pembicaraan ku dengan Dika. “kasih tau alamat kamu dong, kali aja dekat sama rumah aku sekarang.” pinta ku. “rumah ku di jalan kasih bunda no. 13”. “hah!! Jadi tetangga baru itu kamu? Pantesan kemaren pas aku pergi lewat depan rumah itu aku melihat seorang cowok dan wajahnya seperti tidak asing lagi. Jadi itu kamu?” tanya ku kaget “yaa.. bisa jadi” jawabnya dengan gayanya yang khas dan gak berubah dari dulu. Detik, menit dan jam pun berlalu hingga tibalah waktunya untuk pulang sekolah. Aku berjalan menuju parkiran sekolah dan menunggu Riki datang. “tunggu siapa?” tanya Dika yang menghampiri ku. “lagi nunggu Riki nih”. “pacar kamu ya?”. “iya” jawab ku. “itu dia, aku duluan ya”. Kata ku dan pergi bersama Riki dengan motornya. Tanpa terasa siang pun berlalu dan berganti dengan malam. Aku beristirahat di dalam kamar bersama adik perempuanku yang sudah duduk di bangku kelas 2 smp. “kak.. kakak..!” suaranya memecahkan keheningan. “iya, ada apa sih?” jawab ku. “eh kak.. kakak satu kelas sama kak Dika lagi ya? Ciee cieee.. bisa-bisa CBLK nih”. Ejeknya. “ngomong apa sih kamu, ada-ada aja. Tapi dari mana kamu tau kalau aku satu kelas sama dia?” “tadi sore aku ke rumahnya, aku sama adeknya kak Dika si icha kan temenan. Tau gak kak? Tadi itu kak Dika tanya-tanya tentang kak Riki loh. Jangan-jangan kak Dika masih suka tuh sama kakak. Cie cie cieee… mudah-mudahan CBLK aminnn.” “jangan mikir macem-macem deh loe, masih kecil pula. Tidur sana!” beberapa menit kemudian dia pun tetidur pulas… “kringg.. kringg..” bunyi alarm hp ku membuat aku pun terbangun. matahari sudah menampakkan sinarnya. Aku pun bergegas bangun dan juga membangunkan adik ku, namanya cinta yang biasa aku panggil dengan tata. Aku langsung saja mandi dan mempersiapkan keperluan sekolah ku kemudian aku sarapan dan berangkat ke sekolah dengan diantarkan oleh supir. Seperti hari-hari biasanya, saat sampai di sekolah aku langsung ke kelas dan mengobrol dengan Caca teman sebangku dengan ku sejak pertama aku masuk ke sma dan hingga kini masih bersamanya. Dia teman yang asik untuk diajak ngobrol dan kami juga mempunyai banyak kesamaan dan kegemaran. Hari demi hari pun berlalu, hubungan aku dengan Dika pun semakin dekat, karena rumah kami berdekatan aku jadi sering pergi dan pulang bersama dengannya. Dan aku juga merasakan rasa-rasa yang dulu ada kini muncul lagi. Melihat semua itu Cindy dan ketiga temannya sudah pasti tidak tinggal diam, dia dan temannya menyebarkan gosip bahwa aku dan Dika berpacaran hingga gosip tersebut terdengar di telinga Riki. Hubungan aku dan Riki jadi renggang dan kami juga sering bertengkar akibat ulah si mulut cepot itu. Hingga suatu hari Riki mengajak ku untuk bertemu di taman dekat sekolah, dan disanalah Riki memutuskan hubungan di antara kami, tanpa ada kata-kata lain yang dia ucapkan, dia pergi begitu saja meninggalkan ku sendirian. Aku tidak menyangka dia melakukan itu. Hatiku sangat sakit saat aku mendengar kata-kata putus darinya, dan air mata ku sudah tidak terbendung lagi. Mengalir deras bersamaan dengan hujan yang turun melengkapi kegalauan ku pada saat itu. Tiba-tiba aku merasa ada yang memayungi ku. “sudahlah, jangan menangis lagi aku tidak tega melihat air mata mu terbuang sia-sia”. Suara Dika menghentikan tangis ku. “Dika? kok kamu ada di sini?” “mmm.. aku hanya kebetulan lewat saja. Ayo pulang, kamu sudah basah kuyup nanti bisa-bisa kamu sakit”. Kehadiran Dika membuat hatiku merasa lebih tenang. Aku merasa aneh dengan perasaan ku saat ini, antara sedih dan tidak. Entah kenapa disaat aku bersama Dika aku selalu merasa nyaman dan ingin terus bersamanya. Aku menjalani hari-hari dengan rasa sedih masih mengelubungi ku saat aku mengigat masa-masa indah saat aku masih berpacaran dengan Riki. Dan hari ini hati ku benar-benar hancur saat ku mendapati Riki dengan Cindy jalan bergandengan dan juga Caca memberi tau kepada ku bahwa sekarang Cindy berpacaran dengan Riki. Aku menjadi benar-benar benci dengan Cindy, karena dia yang telah membuat aku putus dengan Riki dan dia juga telah merebut Riki dari ku. Mengingat semua yang terjadi hari ini membuat perasaan ku tidak karuan. Aku merasa marah, benci dan sangat sedih. Aku hanya bisa duduk diam di dalam kelas melihat mereka bermesraan di luar sana. “Tori sayang, senyumlah gak cantik lah kalau kamu cemberut gitu”. Caca dan Dika mencoba untuk menghiburku. “kenapa dia setega itu sama aku? Apa salah ku?”. Kata ku sambil melihat ke luar ke arah dimana Cindy dan Riki sedang duduk. “udahlah, masa gara-gara dia kamu jadi kamu jadi gak semangat gini. Masih ada kita disini, iya gak?” sambil melihat ke arah Caca “bener tu, bener banget malah. Anggap aja Riki itu angin yang berlalu”. Caca membalas dengan mantap. “aku akan membantu kamu untuk melupakan dia. Aku akan membuat kamu ceria seperti dulu lagi. Nanti kamu pulang bareng aku aja, ok!?” tanya Dika meminta persetujuan ku. “ok deh”. Saat pulang sekolah tiba, aku menunggu Dika di gerbang sekolah. Tiba-tiba Cindy dan Riki lewat di depan ku dan Cindy senyum sinis pada merasa bahwa dialah yang menang dalam permainan yang dia buat ini. Aku tidak terlalu memperhatikan dia. “ayo naik”. Sambil menghentikan motornya tepat di depan ku. “ok! Let’s go” “bagaimana kalau kita mampir di taman itu sebentar” tanya Dika. “terserah kamu, aku ikut aja. Tapi jangan lama-lama ya” Dika pun memberhentikan motornya, kami berjalan-jalan di taman sekitar 10 menit. Kemudian Dika mengajakku duduk di sebuah kursi di depan kolam dengan pemandangan yang indah. Dia mengeluarkan sebuah kalung dari tasnya, dan ternyata kalung itu adalah kalung yang ingin aku beli namun saat itu aku tidak membawa uang. Itu sudah lama sekali sekitar dua tahun lalu. “kamu masih ingat kalung ini? Ini kalung yang dulu ingin kamu beli kan?” pertanyaannya membuat aku kaget. “dari mana kamu dapatkan kalung itu? Dan kenapa kamu bisa tau kalau dulu aku ingin membeli kalung itu?” “dulu aku mengikutimu, aku melihat kau sangat menyukainya dan saat kau pergi aku menemui penjualnya dan aku membelinya. Ini untuk mu.” Sambil memberikan kalung itu pada ku. “terima kasih ya Dika. kamu memang sangat baik.” “sebenarnya aku…” katanya terbata-bata. “aku masih suka banget sama kamu, aku ingin kita balikan, aku ingin terus bersamamu dan ingin selalu menjaga mu”. Perkataannya membuat aku terdiam. Aku merasa sangat senang dengan perkataannya barusan. Jujur bahwa aku memang masih mencintainya. Selama ini rasa itu telah aku pendam. Tetapi sekarang rasa itu telah benar-benar bangkit kembali. “kamu mau kan balikan sama aku?” Dika mengulang pertanyaannya. Dengan senyum dan air mata kebahagiaan aku menjawab “iya, aku mau”.. “aku juga masih mencintai mu, Dika. aku masih mencintaimu”.

TAMAT

Cerpen Karangan: Sri Multifa Sari

Facebook: Mutie.partii[-at-]facebook.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: