Kenanglah Sahabatku

sahabat      Saat kenaikan kelas aku duduk di bangku kelas XII-A, kesekian kalinya aku mengatakan pada diriku sendiri kalau aku tidak akan suka dengan orang yang telah mngecewakanku.

Saat di kelas guru menyuruh untuk menuliskan data-data beserta no HP. Aku pun mengisi nomer HP ku, dan ternyata banyak anak laki-laki yang mencatat nomorku. Salah satunya Viko, dia adalah salah satu teman laki-lakiku yang mengirimkan SMS malam itu. Dia baik dan bijak. Aku dan Viko jadi sering SMS-an dan sering tukar curhat bersama. Aku merasakan deg-degan saat ada di dekatnya. Dan aku juga selalu salting saat di depannya.

Seiring berjalannya waktu, ku rasa dengan sendirinya mungkin aku dan Viko sering berkomunikasi. Akhir-akhir ini viko sangat cuek kepadaku, dia jadi jarang menghubungiku. Dan saat di kelas dia menghindar dariku. Dia malah menggoda sahabatku Maya. Aku pun santai aja walau ada perasaan kecewa. Tapi aku gak mungkin cemburu dengan sahabatku sendiri.

Tanpa sepengetahuanku ternyata Viko suka sama sahabatku Maya, dan Viko juga sudah menyatakan perasaannya pada Maya. Saat dengar berita itu aku sangat terkejut dan aku sangat menyesal.

Saat aku dan Maya sedang mengerjakan tugas IPS sambil curhat-curhatan, tiba-tiba Viko menghampiri Maya dan tiba-tiba Viko menyatakan cintanya pada Maya untuk yang kedua kalinya, Maya pun meminta saran jawaban kepadaku. Aku diam membisu, aku hanya bisa mengangguk dan aku hanya bisa menahan air mata ini agar tak menetes. Dan akhirnya Maya pun jadian dengan Viko. Aku menjadi saksi hubungan mereka. Hatiku seakan hancur dan teriris oleh pisau yang sangat tajam, karena aku melihat orang yang aku sayang dengan wanita lain, dan wanita lain itu adalah sahabatku sendiri.

Sampai di rumah aku hanya bisa menangis dan menumpahkan semua keluhan kesahku pada buku diaryku. Aku gak bisa merelakan Viko dengan Maya. Kenapa harus Maya sih? Apa gak ada orang lain, aku benar-benar kecewa sama Viko dan Maya, karena mereka sudah hadir di hidupku dengan memunculkan goresan luka di hatiku.

2 bulan kemudian…
Suasana di kelas sore itu benar-benar sunyi dan di situ hanya ada aku dan Viko.
“Ya tuhan.. Rasanya aku ingin sekali memukul wajah lugunya itu!” Gumam ku kesal dalam hati.
“Sayanggg!! Kau masih di kelas? Jadi kan hari ini pulang bareng?” Dari luar terdengar suara gadis yang sepertinya menuju ke kelas kami..
“Kreeek”
“Sayang kau masih di situ?”. Aku pun menoleh ke arah suara sang gadis yang berdiri di depan kelas kami. Ternyata dia sahabatku si “Maya”
“Eh, Mike. Maaf! Aku pikir gak ada orang” ucapnya sambil tersenyum
Aku hanya diam membisu. Tiba tiba hati ku hancur mengetahui apa yang terjadi, rasanya seperti tersambar petir, tapi tidak, rasanya ini lebih sakit. “Kumohon jangan menanggis di sini, kau akan terlihat konyol mike” ucapku dalam hati sambil menahan air mataku.
“Hehe.. iya gak papa, aku hanya mengambil uang yang tertinggal di kelas” ucapku terbata-bata karena semata-mata alasanku.
“Aku duluan yah! Daaahh” ucapku sambil membalas senyuman ramahnya pada ku. Aku pun berjalan dengan sembarangan menuju pintu kelas, tapi rasanya melangkahkan kaki ku terasa sulit.
“ssseeett” tidak seperti yang ku lihat, saking sakit hatinya aku, aku sampai terpeleset terinjak kulit pisang.
“Kamu tidak apa-apa? Ucapnya bertanya padaku.
“Hehe, aku gak papa kok” aku hanya cengar cengir sambil kesakitan
“Permisi” aku pun keluar berlari dan menangis, menangis sejadi-jadinya.

Kejadian itu benar-benar membuatku menangis seharian. Mataku malah jadi sembab karena ingat kejadian itu. Aku pun memutuskan untuk berangkat lebih awal dari biasanya agar aku tidak bertemu Viko seperti sebelum-sebelumnya.
Tapi waktu mau masuk kelas, aku dapati Viko yang sedang duduk sendiri.
“Maaf yah” ucap Viko yang ku sukai.
“Kenapa minta maaf?” Ucapku acuh sambil berjalan menuju bangku.
“Jujur, aku juga menyukaimu. Tapi keadaanya sudah tak mungkin lagi”.
“Apa aku tak salah dengar soal apa yang dia katakan kalau dia menyukai ku” ucapku tergoyah dalam hati.
“Cintaku ini tertutup sudah untuk dirimu yang mengkhianati ku, kurelakan semua untuk dirimu semoga bahagia bersama dengan Maya” kataku terucap sendu pelan dengannya.

Aku mendapat undangan dari Maya di acara pesta ulang tahunnya, Maya mengundang teman-temannya, terutama Viko dan aku. Aku berharap Viko hadir di acara pesta ultahnya Maya.

Acaranya pun segera dimulai, saat Maya hendak meniup lilin, Lalu aku pun buru-buru ke ultahnya Maya.
“sorry telat, soalnya tadi aku habis dari bank untuk mengambil uang mamahku”. Ucapku Sambil tersenyum kepadanya. “ohh. Iya gak papa, aku kira kamu gak akan datang di acara ultah ku” ucapnya membalas dengan senyumanku. Ternyata Viko sudah sampai duluan keacara ultahnya Maya, Viko pun berada di samping Maya yang hendak meniup lilin.
“sebelum aku akan meniup lilin, aku akan memperkenalkan pacarku, ini pacarku yang bernama VIko”. Semua pun bertepuk tangan. Aku tak tau mengapa rasanya hatiku menjadi bimbang saat Maya memperkenalkan pacarnya kesemua orang yang ada di pestanya itu.
“jangan nangis mik, lo disini hanya bikin kekonyolan saat lo nangis”. ucapku dalam hati. Aku akan menjalaninya dengan tegar, supaya aku tidak menangis.

Setelah peniupan lilin dan pemotongan kue. Teman-temanpun berbincang-bincang di area kolam renang. Saat aku hendak menghampiri Viko secara diam-diam, Maya pun datang dan membawa segelas minuman, gelasnya tersenggol aku dan minuman itu pun tumpah ke arah bajuku.
“cccsss, yah tumpah. Maaf mik, aku tadi gak sengaja” ucapnya seperti meledekku.
Tak ada kata 1 pun, aku langsung berlari ke luar pagar, sebelum aku keluar tak jauh dari pagar, ada seorang pria yang tampan memakai jas dan ia berkata “hey, ada apa denganmu, sepertinya kamu lagi terdesak, dan mengapa kamu menangis?” pria itu pun pelan-pelan menghiburku.
“aku gak tau kenapa, rasanya aku seperti di bully, tadi aku terkena tumpahan minuman di bajuku karna tersenggol gelas oleh sahabatku Maya, tetapi dia bilang kalau dia gak sengaja minuman itu tumpah di baju ku, tapi aku heran, waktu dia bilang gitu, sepertinya dia meledekku. Makanya aku berlalari ke luar pagar”. Menceritakan sambil menangis.
“ohh, gitu. Mmmm, gimana kalau kita masuk saja” mengajakku untuk masuk ke rumah Maya.
“tunggu, aku belum tau siapa namamu”
“O, iya aku lupa. Kenalin namaku arjuna temannya Maya, panggil aja aku arjun” berkesan.
“nama ku Mike”

Saat aku memasuki area kolam renang bersama Arjun, tiba-tiba ada yang menyandungkan kakinya ke kakiku, akhirnya aku terpeleset dan aku pun jatuh ke kolam renang. Aku tak bisa mengendalikan keseimbanganku, karena tak biasanya seperti ini, biasanya aku bisa berenang untuk mengendalikannya.
Lalu, arjun menolongku dia merelakan aku sampai-sampai bajunya basah.
“ya tuhan, dia baik sekali sampai dia merelakan menyebur untuk menolong ku, aku tak tau harus berbuat apa. Kalau gak ada dia, mana mungkin aku bisa selamat” ucapku berbisik dalam hati.
semua orang panik, tiba-tiba aku pingsan.

Saat aku terbangun mata aku masih berkunang-kunang. Sesaat itu Viko, Maya dan Arjun menghampiriku ke suatu ruangan “aku dimana” ucapku kebingungan.
“kamu di kamarnya Maya, kamu istirahat aja dulu, soalnya kamu tadi abis pingsan karena hampir tenggelam di kolam renang” ucap Viko menyertaiku.
tiba-tiba Maya pun keluar dari kamarnya dengan wajah jengkel, entah mengapa. Apakah dia yang melakukan semua ini padaku?

Aku pun diantar pulang ke rumah oleh Arjun
“thanks ya arjun, kamu udah banyak bantu aku” ucapku sambil terimakasih.
“iya, sama-sama”.

Keesokan harinya…

Aku menghampiri Viko ke kantin
“Viko…” ucapku tegas.
“Eh, Mike ada apa mik?”
berbasa basi aku mengambil alasan “mmm, entar sore bisa gak kamu ke rumah ku untuk belajar bareng?”. Tanpa kuketahui Maya pun mendorong ku hingga aku terjatuh.
“uppss, Sorry Mik, aku kecepatan larinya nih makannya sampe kaya gini” ucapnya sambil meledekku.
“kamu kenapa sih May? Kamu yang dulu bukanlah yang sekarang, dulu kamu sahabatku yang baik dalam hidupku, tapi kamu sekarang berubah 100% saat kamu mengenal Viko.”
Viko pun menolongku dan ia menjulurkan tangannya kepadaku.
“ey, ey, ey apaan tuh pegang-pegang” menyindirku untuk melepaskan tanganku dari Viko.
Viko pun berkata “kamu ini May, bukannya nolongin tapi malah biarkan dia jatuh kaya gini”. membentak Maya pacarnya sendiri.
Maya pun menarik tangan Viko untuk pergi dari kantin.
aku menangis dan aku langsung menuju ke kelas.

Lonceng istirahat berakhir pun berbunyi, murid semua siap untuk mengikuti pak pelajaran baru.
“Siang anak-anak, disini ada kedatangan murid baru, silakan nak perkenalkan dirimu”
aku langsung kaget, pria itu adalah arjun yang ada di pesta ultahnya Maya waktu itu.
“perkenalkan nama aku arjuna, panggil aja aku arjun. Aku tinggal di perumahan Jaya. Aku ingin kalian semua bisa menjadi teman terbaikku”. menyampaikan dengan senyumannya yang mempesona.
anak-anak lainnya pun kagum dengan ketampanan sosok pria yang bernama arjuna.
“Mike, bisa tolong kamu geserkan tasmu itu” ucap ibu guru sambil menunjukan letak keberadaan tempat dudukku.
“baiklah arjun, kamu duduk di samping Mike ya.” Ibu guru menyandang ke tempat dudukku.
“Arjun, masih ingat aku gak?” ucapku menyapanya.
“hey, kamu mike kan yang semalam ada di pesta ultahnya Maya? Akhirnya kita ketemu juga, sebangku lagi” dengan wajahnya yang begitu riang melihatku.

Aku, Arjuna, Viko dan Maya jalan-jalan ke Monas, Jakarta.
Saat Maya hendak belanja ke sebrang jalan, tiba-tiba ada motor yang hendak menabrak Maya.
“awasss Maaayy..” aku mendorong Maya.
“Srerererett.. Brugghhhttt”.

Setelah aku menolong Maya supaya terhindar dari kecelakaan, aku yang terkena korbannya, aku lebih mementingkan sahabatku sendiri agar dia selamat.
“Ya ampun Mike, toloonnnggg tolonggg” jeritan suara Maya yang mencari pertolongan.
aku pun dibawa ke RSU Jakarta.
“ada apa dengan Mike, May?” Tanya Arjun.
“tadi barusan Mike nolongin aku dari tabrakan motor, tiba-tiba Mike mendorongku dan akhirnya Mike yang menjadi korbannya”. Ucap maya sambil menyesali.
“kreek” suara pintu dari ruang ICU.
“bagaimana dok keadaannya teman kami?” Tanya mereka serempak.
“mmmm, dia terkena penyakit kanker otak” jawab dokter dengan berduka.
“hahhh?” teman-teman pada syokh setelah mendengar kabar itu.
“anda semua boleh masuk, tapi ingat jangan sampai membuat keributan/masalah” perintah dokter.
“makasih dok” ucap teman-teman.

“Mike, kamu tidak apa-apa?” Tanya Maya.
“aku gak papa kok” dengan ucapanku yang begitu nyaman.
“mik, aku mau jujur sama kamu. Dari pertama kali aku udah merebut Viko dari kamu, yang kedua aku sengaja menumpahkan minuman kebajumu waktu di acara pesta ultahku, yang ketiga aku sudah menjulurkan kakiku ke kakimu sampai akhirnya kamu jatuh ke kolam renang, dan yang terakhir aku udah membuat kamu jadi masuk rumah sakit, sebenarnya aku yang masuk rumah sakit bukan kamu” Ucap Maya sambil meneteskan air mata.
“lalu, kamu tau darimana kalau aku punya prasangka kalau kamu udah merebut Viko dariku?“ ucapku penasaran.
“aku tau ini semua dari diarymu karna aku pernah ke kamarmu dan gak sengaja di atas meja belajarmu ada buku diary. Maaf ya mik, aku lancang, tapi ini juga bisa aku peka sama kamu, aku bisa ngertiin kamu mik, kenapa sih mik kamu gak bilang dari dulu kalau kamu ingin sekali mengharapkan Viko?” Maya menjelaskannya pun sambil menangis.
“aku kecewa sama kamu May, kenapa kamu lakukan semua itu sama sahabatmu sendiri May?”
“Apa salahku, kenapa sepertinya kamu dendam sekali denganku?” Tangisanku mulai menjadi-jadi.
“huh huh huh huh huh” nafasku mulai tak karuan
“mik mike, kamu kenapa mik? suster tolongg Maya sus,”
“maaf, kalian semua diharapkan keluar” perintah suster.

1 minggu kemudian…

Mike pun sudah dibolehkan untuk pulang ke rumahnya. Orangtua mike senang sekali saat kedatangan Mike dari rumah sakit.
“Papah, Mamah aku kangen dengan Papah dan Mamah” senang melihat orangtua ku.
“iya, Papah dan Mamah mengkhawatirkan kamu disana nak, maaf kalau Papah dan Mamah gak bisa menengokmu selama di RS karna papah dan mamah gak tau keberadaan kalian dimana” ucap ayah memberitahukanku.

1 juni kemudian…

“Mikeee…” teriakan seseorang yang datang ke rumahku.
“siapa ya?” aku terheran.
“Happy Birthday Mike…” kejutan istimewa dari Maya, Arjuna dan Viko.
“Wauuu, makasih teman-teman” aku pun terkejut.
“Mik, karena hari ini ultahmu, aku beri hadiah cincin untukmu, kamu mau gak jadi pacarku?” tembakan cinta dari arjun untukku.
“hah..? mmm, i, i, iya deh aku mau.” Saking terkejutnya aku saat ditembak pria yang selama ini kubangga banggakan yaitu Arjuna.
akhirnya aku pun jadian degan arjuna.

Hari minggu kemudian..

Maya, Viko, dan Arjun hendak ke rumahku untuk mengajakku lari pagi, tapi sayangnya…
“hah, ada apa tuh di rumah Mike rame-rame? Kita samperin yuk!” ajak Arjun.
“permisi, Mike.. kamu kenapa?” Tanya Viko terkejut.
“teman-teman aku minta maaf ya kalau aku ada salah, Arjun mungkin pacaran kita sampai sini saja carilah pacar yang bisa mengurus kamu dan perhatian, Viko jagain Maya sahabatku ya. Dia anak baik jangan kamu kecewakannya. Kalian semua adalah sahabatku yang baik di dalam hidupku. Mungkin sampai sini saja aku bisa melihat kalian.. aku gak kuat lagi, Se se lamat ti tinggal Sahabatku..”
“mikeeee” teriakan dan tangisan Sahabat-sahabat Mike.

Akhirnya Persahabatan mereka tidak sia-sia dan mereka harus mencoba merelakan kepergian mike untuk selama-lamanya.

Cerpen Karangan: Sania Verawati
Facebook: Sania Verawati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: