Kesempatan Kedua

Cinta Lama Kembali BersemiBagaimanakah jika kalian menemukan cinta bagaikan menelan ludah sendiri? Apakah kalian akan jijik untuk menjilatnya kembali? Mungkin, aku kala itu usai makan makanan yang enak hingga aku tak jijik. Entahlah, hanya rasa syukur yang bisa aku panjatkan. Yang jelas, rasanya sangat manis, enak dan nikmat…!

Bermula dari sebuah perpustakaan, yang mengantarkan aku bertemu dengan laki-laki itu. Aku adalah sosok yang cuek. Mungkin, ia sungkan untuk menyapaku saat di perpustakaan. Sikapku yang dingin membuatnya bingung bagaimana ia bisa berkenalan denganku. Tapi, bagaimanapun sikapku, kalau Allah sudah berkehendak pasti ada jalan.
Hingga suatu saat, laki-laki itu berhasil mendapatkan nomor ponselku dari salah satu temanku. Aku pun mengiyakan nomorku diketahui oleh laki-laki itu. Saat itu, aku hanya berfikir ingin memiliki sahabat yang bisa mengerti aku. Kami pun berkenalan lewat sms. Sms pun jarang sekali. Hanya sesekali aku mendapatkan kiriman hadist-hadist darinya.
Sikapku terhadapnya masih cuek. Saat bertemu di perpus pun, aku sama sekali tak menatapnya. Sekedar menyapa pun tidak. Mungkin, ia berfikir aku adalah wanita yang cuek dan angkuh. Entahlah, aku takut berdekatan dengan laki-laki. Bagiku mereka adalah orang yang asing. Aku sama sekali tak merasakan kenyamanan dan ketentraman. Oleh karena itu, aku tak begitu akrab dengan laki-laki. Bahkan teman sekelasku sewaktu masih sekolah.

Suatu saat aku bertemu dengannya. Ini pertama kali aku bertemu, menatapnya dari jarak yang begitu dekat. Pertemuan yang aku rencanakan sebelumnya. Aku merasa, sikapku selama ini salah kepada mereka, para lelaki. Kenapa aku bersikap cuek terhadap mereka? Kita bisa bersahabat dan menjalin hubungan yang baik. Aku ingin bersahabat dengannya.

Dia adalah sosok yang penyabar. Setia mendengarkan semua curhatanku. Bahkan curhatan yang senantiasa menggoreskan luka di hatinya. Dia pernah menyatakan cinta terhadapku, tetapi aku menganggapnya sebagai sahabat. Dia selalu memberi nasihat padaku, mengajarkan aku menjadi sosok yang lebih baik.

Mungkin, kala itu aku masih menyimpan rasa terhadap seseorang. Hingga aku belum bisa menerima kehadirannya dalam hidupku. Dialah orang yang memberiku semangat tatkala aku hancur dan rapuh karena cinta yang salah. Aku sedih karena cinta yang salah aku berikan kepada orang lain. Hingga aku merasakan sakit karena cinta, untuk pertama kalinya. Tetapi, dia selalu memberiku semangat. Entah berapa kali ia menyatakan cinta terhadapku. Mungkin tiga kali. Terakhir, ia melihat statusku di facebook.

Ya Allah, hamba memohon kepadaMu kecintaanMu. Kecintaan orang yang mencintaiMu. Dan kecintaan terhadap amal yang mendekatkanku kepada cintaMu.

Ia pun mengirim pesan di facebook, dan mengatakan bahwa dialah cinta yang aku harapkan. Tapi, lagi-lagi aku mengatakan bahwa aku ingin bersahabat dengannya. Akhirnya hubungan ini hanya sebatas sahabat. Ia juga sesekali menanyakan kabarku. Kadang, aku yang sms menanyakan kabarnya. Kami sering terlibat perbincangan. Aku pun merasa akrab, nyaman dan tentram dengannya. Tapi, aku sadar bahwa dia sahabatku. Bukan orang yang spesial dalam hatiku.
Dulu, aku menganggap laki-laki adalah sosok yang menakutkan. Aku tak merasakan kenyamanan dan ketentraman. Tetapi, Dia bisa membuatku merasa nyaman dan tentram. Tapi, lagi-lagi hatiku berkata, ‘Dia adalah sahabatku’.

Hatiku dikejutkan kembali dengan ungkapan perasaan teman laki-laki itu. Kenapa ia begitu cepat menyatakan cintanya padaku. Aku baru bertemu saat aku bertemu dengan laki-laki itu untuk pertama kalinya. Bagaimana jika dia tahu bahwa temannya menyatakan perasaannya terhadapku. “Aku mohon, jangan pernah mengatakan hal ini pada orang lain. Anggap saja tidak terjadi apa-apa antara aku dan dirimu. Terutama, jangan pernah mengatakan ini padanya.” Kata teman laki-laki itu.

Saat itu, hatiku sangat sedih. Aku tahu siapa mereka. Mereka adalah dua orang sahabat yang baik. Aku adalah orang yang beruntung mendapatkan cinta dari mereka berdua. Tapi, hatiku masih belum bisa untuk menerima kehadiran mereka. Aku pun tak pernah mengatakan hal itu pada laki-laki itu. Aku merasa sedih telah mneyakiti dua laki-laki yang bersahabat itu.

Tapi, teman laki-laki itu menghilang begitu saja dari kehidupanku. “Apakah ia tak ingin bersahabat denganku. Karena aku telah menyakiti perasaannya? Maafkan aku… maafkan aku.” Kataku lirih. Tapi, aku melihat sesuatu yang berbeda dalam laki-laki itu. Ia tetap setia menemaniku, menjadi sahabat terbaikku. Bahkan, meskipun aku telah menyakiti hatinya, menyakiti hati sahabatnya tanpa sepengetahuannya. Ia selalu ada untukku, aku melihat kasih sayangnya yang besar terhadapku. “Tapi, ia hanya sahabatku. Dan aku pernah berkata pada temanku bahwa aku hanya bersahabat dengannya.” Kataku.
“Bagaimana jika suatu saat kau jatuh cinta dengannya?” Tanya temanku. “Aku hanya menganggapnya sebagai sahabat. Dan aku akan bersahabat dengannya.” Jawabku. Entahlah, kenapa aku berkata demikian waktu itu. Lalu, bagaimana dengan perasaanku? Aku mulai merasakan sesuatu. Tapi, aku tak bisa mengatakan bahwa itu adalah rasa cinta. Aku merasa biasa saja. Tidak ada perasaan berdebar dalam hatiku. Hanya satu, aku takut kehilangan orang sebaik laki-laki itu.

Kuberanikan diri untuk menanyakan perasaan laki-laki itu terhadapku. Hatiku berdebar-debar menunggu sms balasan darinya. Entahlah, mungkin aku wanita yang tak tahu malu. Aku teringat dengan ucapanku. “Aku hanya menganggapnya sebagai sahabat. Dan aku akan bersahabat dengannya.” Kataku pada temanku. Aku sama sekali tak lupa akan kata-kataku itu. Sekarang, tak ada rasa yang berdebar yang bisa aku sebut dengan cinta. Aku takut kehilangan orang sebaik dirinya, hanya itu. Dia adalah laki-laki yang baik.

Aku hanya yakin. Jika memang dia yang terbaik untuk hidupku. Suatu saat aku akan menemukan cinta itu. Aku akan mencintainya dengan segenap jiwa dan raga. Aku akan menyayanginya, dan aku tak ingin kehilangan dia untuk yang kedua kalinya. Tapi, bagaimana jika hatinya telah tertutup untukku? Akankah luka lama yang aku goreskan di hatinya sembuh karena datangnya cintaku untuknya? Ataukah justru cinta ini akan mengingatkan pada luka lama itu? Bagaimana jika ia justru akan meninggalkanku dan tidak menganggapku sebagai sahabatnya?
Segunung pertanyaan memenuhi hatiku. Hanya satu tekadku. Aku tak ingin kehilangan orang sebaik dia. Apa pun jawaban yang ia berikan padaku. Apapun, termasuk keikhlasan untuk menerima kenyataan bahwa dia sudah melupakan cintanya padaku dulu. Mungkin, ini akan menjadi kesedihan dalam hidupku untuk kedua kalinya.

Alangkah bahagianya hatiku mendapatkan jawaban itu. “Aku masih menyimpan perasaanku itu terhadapmu. Sampai kapanpun, rasa itu akan tetap ada untukmu. Aku tidak pernah mencari pacar. Aku mencari calon istri yang akan setia mendampingiku” Jawabnya dalam sms. Aku sangat bahagia. Tapi, aku tidak merasakan getaran dalam hatiku yang bisa aku sebut dengan cinta. Hanya satu, aku takut kehilangannya. Kehilangan orang sebaik dia, dan kehilangan orang yang mencintaiku dengan tulus dan penuh kesabaran.

Perlahan, cinta itu mulai tumbuh seiring mengenalnya lebih dekat. Mengenal kepribadiannya yang baik dan penyabar dalam menghadapiku. Perjalanan masih jauh.. Ia berjanji akan menikahiku dan serius menjalin hubungan denganku. Kini aku terpisah dengannnya. Ia berada di luar kota untuk bekerja. Hanya keyakinan bahwa aku berjodoh dengannya dan kepercayaan yang aku tanamkan dalam hatiku. Agar aku tak terlalu cemas dan khawatir memikirkannya.

Kini, aku meraskan cinta yang begitu hebat. Cinta itu perlahan tumbuh dan semakin mendalam dalam hati ini. Aku tahu cintanya begitu besar terhadapku. Hingga ia sabar dalam menyimpan cintanya terhadapku, meskipun aku menolaknya beberapa kali. Tapi, kini aku sudah bisa merasakan cintanya. Dan cintaku jauh lebih besar dari pada cintanya terhadapku.

Aku tak perduli jika aku telah menjilat ludahku sendiri. Bagiku, ianya sangat manis. Banyak pelajaran yang aku dapatkan. Bagaimana kita harus mencintai seseorang yang mencintai kita dengan tulus dan ikhlas. Kita tidak akan pernah menerima cinta seperti apa yang kita inginkan, tetapi kita akan menerima cinta sebagaimana yang diberikan kepada kita. Oleh karena itu, cintailah dia dengan sepenuh hati sebagaimana yang ia berikan pada kita. Sungguh, itu sangatlah indah.

Mungkin, inilah yang dinamakan kesempatan kedua. Dan aku mendapatkan kesempatan itu. Kesempatan yang berharga dalam hidupku. Kesempatan merasakan cinta yang besar dari seseorang sebaik dirinya. Aku percaya akan janjinya terhadapku. Kutunggu hingga saatnya nanti dia akan meminangku.

Selesai

Cerpen Karangan: Choirul Imroatin
Facebook: Choirul Imroatin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: