Via dan Jambu Monyet

JAMBU MONYETSetiap lebaran, orangtua Via selalu berbagi makanan kepada orang yang membutuhkan. Kebetulan, di dekat rumahnya ada nenek yang sudah tua dan hidup seorang diri. Menjelang berbuka puasa, Via mendapatkan tugas untuk mengantarkan makanan untuk nenek itu.
“Via, tolong antarkan nasi dan juga kolak pisang ini untuk nek Hindun ya?” perintah ibunya. “Iya, bu.” Jawab Via. Via pun bergegas pergi mengantarkan nasi dan juga kolak untuk Nek Hindun. ‘Andaikan saja aku sudah punya sepeda. Pasti aku tak perlu jalan kaki ke rumah Nek Hindun’ Kata Via dalam hati. Ia mengamati teman-temannya yang asyik bersepeda menunggu waktu berbuka puasa.
‘Kalau Via bisa puasa satu hari penuh, ayah dan ibu pasti akan kasih Via hadiah. Tapi, Via puasanya jangan karena ingin mendapatkan hadiah. Jadi, harus diikuti dengan niat yang ikhlas dari hati.’ Via teringat dengan nasihat ayahnya. “Aku harus bisa puasa penuh satu hari selama satu bulan. Jadi, aku bisa bersepeda seperti teman-teman.” Kata Via.

Usai pulang sekolah, Via mendengar suara ramai di dalam rumahnya. Ternyata, nenek dan kakeknya datang dari luar kota. Via sangat senang, karena ia juga merindukan kakek dan neneknya. “Nenek dan kakek ada hadiah untuk Via. Nenek dengar, Via puasanya satu hari penuh.” Kata Neneknya bangga. “Iya, nek. Via bisa puasa satu hari penuh. “Karena itu, kakek tadi beli sepeda baru untuk Via.” Kata kakek Via sambil memeluk Via dan menciumnya.
“Benar, Kek?” Tanya Via kegirangan. Kakek dan neneknya hanya mengangguk sambil tersenyum. Via lantas memeluk kakek dan neneknya. “Via harus dilanjutkan ya puasanya” Pinta mamanya. “Iya, Ma…, Via janji akan mengantarkan makanan pada Nek Hindun, dan membantu mama belanja ke pasar. Kan sepeda Via ada keranjangnya.” Jawab Via. Nenek, kakek dan kedua orangtua Via sangat senang. Semoga, Via tambah bersemangat menjalankan puasa dan membantu orang lain dengan ikhlas.

Via berangkat sekolah dengan wajah yang gembira dan Nampak berseri-seri. Ia mengendarai sepeda barunya sambil bernyanyi-nyanyi. Setiba di sekolah, ia melihat temannya sedang asyik ngobrol di bangku halaman sekolah. “Via, sepeda kamu baru ya?” Tanya Putri. “Iya, Put. Ini hadiah dari kakek dan nenek.” Jawab Via tersenyum. “Wah…, bagus sekali. Aku suka warnanya. Pink…” Sahut Nia.
“Aku pergi ke kelas dahulu…” Kata Ajeng dengan wajah memelas dan bimbang. Ia pergi begitu saja. “Ajeng kenapa, Put?” Tanya Via. Aku juga bingung. “Kata Ajeng, kemarin dia berbohong sama ibunya. Katanya, dia mengambil uang tanpa sepengetahuan ibunya.” Tambah Nia. “Kenapa dia tidak bilang saja sama ibunya dan meminta maaf.” Kata Via.
“Itu masalahnya, Via… Saat ia bilang ke kak Mei, dia bilang kalau orang berbohong itu akan jadi jambu monyet. Kepalanya di bawah, kakinya di atas. Ngeri kan?” Putri menjelaskan. Mereka bertiga pun terdiam membayangkan dirinya masing-masing seperti jambu monyet. ‘Apa benar, jika kita berbohong akan jadi jambu monyet. Ngeri sekali. Bergelantungan di pohon…’ Pikir Via dalam hati. Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Mereka bertiga segera lari memasuki kelas.

“Via, mama tadi buat kue. Tolong, nanti kamu antarkan ke rumah Nek Hindun ya? Ingat, jangan main ke mana-mana. Kalau sudah cepetan pulang!” Pesan mamanya. “Iya, ma…” Jawab Via. Via pun segera mengambil sepedanya dan bergegas mengantarkan kue buatan mamanya untuk Nek Hindun.

Dalam perjalanan, Via masih memikirkan apa yang diucapkan oleh putri sewaktu di sekolah. ‘Apa benar, manusia bisa jadi jambu monyet? Mengerikan sekali…’ pikirnya dalam hati. Tanpa ia sadari, di depan ada sebuah batu di tengah jalan. Karena ia melamun, ia pun tak konsentrasi dalam mengendarai sepedanya. Akhirnya, via pun terjatuh dan kue itu hancur dan kotor.

“Aduh…, bagaimana ini. Kuenya hancur dan kotor. Aku tidak mungkin memberikannya pada Nek Hindun. Dan Mama pasti akan marah jika mengetahui hal ini. Aku harus bagaimana?” Via bingung dan takut. Matanya mulai berkaca-kaca menahan sakit karena terjatuh.

Sesampainya di rumah, Via terpaksa berbohong kepada mamanya, kalau dirinya sudah mengantarkan kue itu pada Nek Hindun. Ia pun merasa bersalah dan diliputi rasa takut. Ia hanya menyendiri di ruang tengah. TV yang ditontonnya dibiarkannya begitu saja. Lamunannya mengarah pada kata temannya waktu di sekolah. ‘Itu masalahnya, Via… Saat ia bilang ke Kak Mei, dia bilang kalau orang berbohong itu akan jadi jambu monyet. Kepalanya di bawah, kakinya di atas. Ngeri, kan?’.

Via merasa ngeri jika teringat kata-kata itu. Apalagi, dia baru saja berbohong pada mamanya. Ia pun berbaring di kursi, memeluk dirinya sendiri dengan rasa takut dan khawatir. Ia takut jika apa yang dikatakan temannya itu menjadi kenyataan. “Bagaimana jika perkataan itu benar? Oh, tidak! Itu sangat mengerikan.” Kata Via meringkuk ketakutan.

“Tolong…, tolong aku nek, kek!” Via bergelantungan menjadi jambu monyet. “Jangan petik aku dan makan aku nek, kek. Via mengaku salah telah berbohong pada Mama. Maafkan Via Nek, Kek…” Teriak Via semakin keras. Karena nenek dan kakeknya hendak memetik dirinya dan memakannya. Galah yang disodorkan neneknya hendak menyentuh dirinya. Via pun berteriak dengan sekencang-kencangnya. “Jangan Nek… jangan!” Teriak Via.
“Via, bangun sayang! Kamu kenapa?” Mama Via membangunkannya. Via, bangun sayang!” Kata Neneknya. Via pun terbangun dengan diliputi rasa takut. Ia terkejut tatkala melihat neneknya membawa jambu monyet di keranjang. “Via, bermimpi Ma. Via bermimpi kalau Via berubah menjadi jambu monyet karena telah berbohong sama mama.” Kata Via dengan nafas yang ngos-ngosan.
“Kenapa seperti itu? Masa manusia bisa berubah menjadi jambu monyet..” Kata Neneknya tertawa. “Iya, Nek. Kata Temen Via seperti itu. Ia akan bergelantungan di pohon seperti jambu monyet. Kepalanya di bawah dan kakinya di atas. Via takut Nek, Ma…” Kata Via menjelaskan. “Via, kalau Via berbohong itu artinya Via berdosa. Dan berbohong adalah perbuatan yang tidak baik. Jadi, Via harus meminta maaf.” Terang mamanya.
“Jambu monyet hanya sebuah perumpamaan Via. Kepalanya di atas dan kakinya di bawah itu maksudnya, dia akan mendapatkan hukuman atau pelajaran. Masak, manusia berubah jadi jambu monyet..” Neneknya tersenyum. “Maafkan Via, ya Ma. Kemarin Via jatuh dari sepeda. Dan Kue untuk Nek Hindun jatuh dan kotor. Maafkan Via Ma, karena telah berbohong sama mama.” Via meminta maaf. “Iya, sayang. Mama maafkan. Lain kali, Via jangan berbohong ya…” Nasihat mamanya. “Iya, Ma…” Via pun memeluk mamanya.

Selesai

Cerpen Karangan: Choirul Imroatin
Facebook: Choirul Imroatin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: